Home / UMY

Survei BI: Optimisme Lapangan Kerja Menurun, Ekonom UMY Sebut Dipengaruhi PHK dan Ketidakpastian Ekonomi

Senin, 13 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto dosen FEB UMY, Prof. Dr. Imamudin Yuliadi, S.E., M.Si.

Foto dosen FEB UMY, Prof. Dr. Imamudin Yuliadi, S.E., M.Si.

JOGJAOKE.COM, Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang dirilis pada Rabu (8/7) menunjukkan optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja pada Juni 2026 mengalami penurunan, meskipun masih berada pada zona optimistis. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam memandang prospek ekonomi di tengah ketidakpastian global dan dinamika ekonomi nasional.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Imamudin Yuliadi, S.E., M.Si., menilai penurunan optimisme tersebut lebih menggambarkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi daripada kondisi pasar tenaga kerja yang sesungguhnya. Menurutnya, persepsi itu terbentuk dari berbagai faktor, mulai dari perlambatan aktivitas dunia usaha, meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga situasi ekonomi dan politik yang memengaruhi keyakinan masyarakat terhadap peluang memperoleh pekerjaan.

Ia menjelaskan, masyarakat masih cenderung memaknai lapangan kerja sebagai pekerjaan formal. Sementara itu, pertumbuhan kesempatan kerja formal belum mampu mengimbangi jumlah pencari kerja yang terus meningkat. Kondisi tersebut diperparah dengan perlambatan di sejumlah sektor usaha sehingga membentuk anggapan bahwa memperoleh pekerjaan kini semakin sulit.

“Survei ini pada dasarnya menggambarkan persepsi masyarakat terhadap kondisi yang sedang mereka hadapi. Masyarakat melihat ada sektor usaha yang mengalami perlambatan, bahkan penutupan, sehingga memengaruhi cara mereka memandang peluang kerja. Di sisi lain, lapangan kerja formal belum mampu mengimbangi jumlah pencari kerja yang terus bertambah,” jelas Prof. Imam, Senin (13/7).

Menurutnya, persepsi tersebut juga dipengaruhi berbagai perkembangan ekonomi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik, kenaikan harga energi, tekanan inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga dinamika politik nasional menjadi faktor yang membentuk ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan prospek lapangan kerja.

“Perekonomian Indonesia memang belum berjalan secara ideal. Kita menghadapi tekanan dari situasi global, mulai dari konflik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak hingga inflasi. Di dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah dan dinamika politik juga memberikan sinyal yang kurang baik sehingga secara psikologis memengaruhi persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja,” ungkapnya.

Fenomena PHK di berbagai sektor, lanjutnya, semakin memperkuat kekhawatiran masyarakat terhadap peluang kerja. Ketika perusahaan yang telah beroperasi justru mengurangi jumlah tenaga kerja akibat tekanan ekonomi, masyarakat menjadi ragu terhadap kemampuan dunia usaha untuk membuka rekrutmen baru.

“Kalau perusahaan yang sudah berjalan saja harus melakukan PHK karena tekanan ekonomi, tentu masyarakat akan bertanya bagaimana peluang rekrutmen bagi pencari kerja baru. Persepsi seperti itulah yang berkembang sehingga optimisme terhadap lapangan kerja menjadi menurun,” katanya.

Meski demikian, Prof. Imam menegaskan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menciptakan lapangan kerja baru apabila didukung regulasi yang memberikan kepastian bagi dunia usaha. Menurutnya, sektor pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta berbagai program strategis pemerintah berpotensi mendorong penyerapan tenaga kerja apabila dijalankan secara konsisten dengan tata kelola yang baik.

“Peluang menciptakan lapangan kerja masih sangat terbuka. Yang diperlukan adalah regulasi yang mampu memberikan kepastian dan optimisme kepada pelaku usaha untuk terus mengembangkan bisnisnya. Jika program-program strategis dijalankan secara konsisten dengan tata kelola yang baik, lapangan kerja baru akan semakin banyak tercipta,” pungkasnya. (lsi)

 

sumber : humas umy

Berita Terkait

Jejaring Riset Internasional UMY Menguat di QS Asia 2027, MoU Harus Berujung Kolaborasi Nyata
Pererat Sinergi Kampus dan Kepolisian, UMY Gelar Fun Football Bersama Polres Bantul
UMY Masuk 15 Besar Universitas Terbaik di Indonesia dan naik 8 peringkat di QS Asia University Rankings 2027
UMY Melesat 162 Peringkat di QS Asia University Rankings 2027, Catat Kenaikan tertinggi ke-5 di Asia
Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan Kesehatan untuk Santri Ar Rahimiyah Pota
Tim Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan ke Puskesmas Pota, Siapkan Lima Paket Darurat
UMY Kirim Tim Aksara Peduli ke Manggarai Timur, Dukung Pemulihan Pascabencana
Beasiswa Full Study UMY 2026 Jangkau 113 Mahasiswa, Termasuk dari Filipina

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 12:58 WIB

Jejaring Riset Internasional UMY Menguat di QS Asia 2027, MoU Harus Berujung Kolaborasi Nyata

Kamis, 5 November 2026 - 11:28 WIB

Pererat Sinergi Kampus dan Kepolisian, UMY Gelar Fun Football Bersama Polres Bantul

Kamis, 5 November 2026 - 08:36 WIB

UMY Masuk 15 Besar Universitas Terbaik di Indonesia dan naik 8 peringkat di QS Asia University Rankings 2027

Kamis, 5 November 2026 - 08:27 WIB

UMY Melesat 162 Peringkat di QS Asia University Rankings 2027, Catat Kenaikan tertinggi ke-5 di Asia

Selasa, 3 November 2026 - 13:20 WIB

Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan Kesehatan untuk Santri Ar Rahimiyah Pota

Berita Terbaru