JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Pemerintah Kota Yogyakarta mempercepat penguatan talud di sepanjang tiga sungai utama sebagai langkah mitigasi risiko longsor dan kerusakan tebing akibat cuaca ekstrem. Upaya ini dilakukan menyusul masih adanya sejumlah titik yang dinilai rentan, terutama pada konstruksi lama.
Berdasarkan Data Teknis Sungai dan Talud Kota Yogyakarta Tahun 2025 dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta, total panjang talud di tiga sungai utama mencapai 36.156 meter. Dari jumlah tersebut, sepanjang 25.040 meter atau 69,26 persen dalam kondisi baik. Sisanya masih memerlukan penanganan bertahap sesuai tingkat kerusakan dan prioritas risiko.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Yogyakarta, Rahmawan Kurniadi, menjelaskan, sebagian talud masih menggunakan konstruksi pasangan batu kali, bahkan terdapat segmen sungai yang belum memiliki talud permanen.
“Masih lumayan banyak yang batu kali. Bahkan ada yang belum bertalud. Sekarang kita tingkatkan strukturnya menjadi lebih kuat, dengan pondasi beton ditanam sekitar 1,5 sampai 2 meter di bawah dasar sungai, lalu dindingnya cor beton bertulang,” ujar Rahmawan, Senin (23/2/2026).
Menurut dia, konstruksi beton bertulang dipilih karena lebih mampu menahan tekanan arus deras dan gerusan saat intensitas hujan tinggi. Perubahan struktur ini juga menjadi bagian dari standar pembangunan talud baru di Kota Yogyakarta.
Pada 2026, pembangunan difokuskan di aliran Sungai Winongo melalui dua paket pekerjaan di wilayah Bener dan Pakuncen. Di Bener, pembangunan dilakukan dari awal karena sebagian besar kawasan belum memiliki talud permanen. Adapun di Pakuncen, talud lama dari pasangan batu kali ditingkatkan menjadi struktur beton bertulang.
Selain proyek terencana, Pemkot Yogyakarta juga melakukan penanganan insidentil di sejumlah titik rawan, antara lain di kawasan Ngampilan, Baciro, dan Gambiran. Penanganan biasanya dilakukan setelah adanya laporan kerusakan akibat hujan deras yang memicu ambrol atau longsor pada struktur lama.
Penguatan talud ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas tebing sungai, tetapi juga melindungi permukiman warga yang berada di bantaran dari potensi bencana saat musim penghujan. (aga/ihd)






