Pelatihan Koperasi Merah Putih Harus Berbasis Kompetensi, Bukan Semi-Militer

Rabu, 1 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen IP UMY, Dr. Aulia Nur Kasiwi, S.IP., M.IP

Dosen IP UMY, Dr. Aulia Nur Kasiwi, S.IP., M.IP

JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA – Program pelatihan bagi peserta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menjadi sorotan publik setelah lima peserta dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Berdasarkan pemberitaan CNN Indonesia (27/6) lalu, bertambahnya jumlah korban jiwa memunculkan perhatian terhadap metode pelatihan yang diterapkan sekaligus mendorong evaluasi terhadap implementasi program pemerintah.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Aulia Nur Kasiwi, S.IP., M.IP menilai pendekatan semi-militer tidak dapat langsung dinilai sebagai langkah yang tepat maupun keliru. Menurutnya, penilaian harus dilakukan dengan melihat tujuan utama program serta kompetensi yang ingin dibangun melalui pelatihan tersebut.

“Pendekatan semi-militer memang memiliki sisi positif. Peserta dapat dilatih untuk lebih disiplin, mampu bekerja sama, dan memiliki mental yang lebih tangguh. Namun, kita juga harus melihat tujuan dari Program Koperasi Merah Putih itu sendiri. Apakah yang dibutuhkan hanya kedisiplinan dan ketahanan mental, atau justru kemampuan mengelola organisasi dan koperasi. Karena itu, menurut saya pendekatan semi-militer cukup menjadi pelengkap, bukan menjadi inti dari pelatihan,” ujarnya kepada Humas UMY, Rabu (1/7)

Tujuan utama pemberdayaan koperasi seharusnya berfokus pada peningkatan kapasitas pengurus dalam mengelola organisasi secara profesional. Keterampilan yang dibutuhkan pengurus koperasi tidak memiliki hubungan langsung dengan latihan fisik, melainkan kemampuan administrasi, pengelolaan keuangan, hingga membangun jejaring dan partisipasi anggota.

“Dalam perspektif kebijakan publik, pengurus koperasi harus memahami tata kelola organisasi, administrasi, dan keuangan yang baik. Selain itu, mereka juga harus mampu memanfaatkan teknologi digital dan membangun komunikasi yang efektif agar kepercayaan masyarakat terus meningkat. Semakin tinggi partisipasi anggota, semakin besar pula peluang koperasi untuk berkembang,” kata Aulia lebih lanjut.

Insiden yang menewaskan lima peserta, harus menjadi momentum evaluasi terhadap implementasi program pemerintah. Ia menegaskan bahwa keselamatan peserta merupakan aspek yang tidak boleh dikesampingkan dalam pelaksanaan kebijakan publik, terlebih ketika menyangkut program berskala nasional.

“Korban jiwa ini harus menjadi catatan penting bagi pemerintah. Ucapan belasungkawa tentu tidak akan pernah menggantikan nyawa yang hilang. Saya sangat menghormati institusi militer, tetapi dalam konteks pelatihan koperasi saya belum melihat alasan yang cukup kuat mengapa pendekatan semi-militer harus menjadi pilihan utama. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah pelatihan berbasis kompetensi yang memiliki keluaran nyata bagi pengelolaan koperasi,” tegasnya.

Untuk itu, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan pelatihan Koperasi Merah Putih. Proses evaluasi harus dilakukan secara komprehensif dan berbasis data agar setiap kebijakan benar-benar mampu mencapai tujuan yang diharapkan sekaligus meminimalkan risiko di lapangan.

“Pelaksanaan program ini perlu dibenahi secara komprehensif. Evaluasi harus berbasis data sehingga pemerintah dapat mengetahui apakah tujuan kebijakan benar-benar tercapai dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Dengan evaluasi yang matang, pelatihan dapat berjalan lebih efektif, sesuai kebutuhan pengurus koperasi, serta tetap mengutamakan keselamatan peserta sehingga kepercayaan masyarakat terhadap program ini juga dapat terjaga,” pungkas Aulia. (gla)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Kerangka Manusia Pajangan Berhasil Teridentifikasi, Keluarga Kenali dari Ciri Khusus Gigi
‎Kebakaran Sumbing Hanguskan 300 Hektare, Kodim 0707/Wonosobo Berjibaku Tiga Hari
Danrem Hadiri Sertijab Dandim Yogyakarta, Pangdam Soroti Ancaman Bencana
Pakar UMY Nilai Gejolak Sosial Eropa Berkaitan dengan Tekanan Ekonomi Struktural
Kerusakan Fasilitas Pendidikan dan Krisis Lingkungan Perlu Penanganan Serius
Universitas Widya Mataram Perkuat Kompetensi dan Integritas SDM
Haedar Nashir Dorong Pemerintah Perkuat Kolaborasi dan Komunikasi Publik
LSP UMY Uji Kompetensi 831 Peserta, Bidik Kerja Sama Sertifikasi Internasional

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:10 WIB

‎Kebakaran Sumbing Hanguskan 300 Hektare, Kodim 0707/Wonosobo Berjibaku Tiga Hari

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:03 WIB

Danrem Hadiri Sertijab Dandim Yogyakarta, Pangdam Soroti Ancaman Bencana

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Pakar UMY Nilai Gejolak Sosial Eropa Berkaitan dengan Tekanan Ekonomi Struktural

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Kerusakan Fasilitas Pendidikan dan Krisis Lingkungan Perlu Penanganan Serius

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:30 WIB

Universitas Widya Mataram Perkuat Kompetensi dan Integritas SDM

Berita Terbaru