JOGJAOKE COM, Yogyakarta — Memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah tidak hanya menekan kinerja ekspor Indonesia, tetapi juga menguji ketahanan struktur ekonomi nasional. Kondisi ini mendorong perlunya langkah strategis pemerintah untuk meredam dampak sekaligus memperkuat fondasi ekonomi dalam jangka panjang.
Pakar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Susilo Nur Aji Cokro Darsono, menilai ketidakpastian global akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat justru dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk melakukan pembenahan struktural. Salah satunya melalui diversifikasi pasar ekspor dan percepatan transformasi industri.
“Diversifikasi penting agar perekonomian tidak terlalu bergantung pada komoditas tertentu,” ujarnya, Sabtu (10/4/2026). Ia menambahkan, konflik di kawasan Timur Tengah memperlihatkan tingginya risiko energi global, mengingat sebagian besar jalur perdagangan minyak dunia melintasi wilayah yang rawan konflik.
Gangguan di kawasan tersebut, lanjutnya, berdampak sistemik terhadap biaya energi dan logistik global. Indikasinya mulai terlihat dari kenaikan ongkos pengiriman serta perlambatan aktivitas manufaktur di berbagai negara.
Dalam konteks itu, ekspansi ke pasar nontradisional dinilai menjadi langkah mendesak. Upaya ini diperlukan untuk mengurangi ketergantungan pada pasar utama yang rentan terhadap gejolak global.
“Diversifikasi tidak hanya membuka peluang baru, tetapi juga menjadi mekanisme mitigasi risiko. Ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan struktural di tengah ketidakpastian global,” kata Susilo.
Selain itu, ia menekankan pentingnya respons kebijakan yang terintegrasi. Pemerintah perlu merancang langkah antisipatif dalam berbagai horizon waktu—jangka pendek, menengah, hingga panjang—agar stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah dinamika global yang kian kompleks. (aga/ihd)






