JOGJAOKE.COM, Yogyakarta – Sebanyak 117 dari 162 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) tercatat belum memiliki guru besar. Kesenjangan tersebut hendak dijawab lewat gagasan “Muhammadiyah United”, yakni jejaring guru besar lintas kampus.
Gagasan tersebut mengemuka dalam agenda Forum Komunikasi Guru Besar PTMA (Forkom GB-PTMA) 2026 pada Jumat (9/10) yang berlokasi di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory. Ketua Panitia, Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si., memaparkan hasil temuan dan gagasannya di hadapan lebih dari 100 guru besar yang hadir.
Sidik menyebut sekitar 480 guru besar memiliki homebase di PTMA, tetapi baru 45 kampus yang memilikinya. Sebaran tersebut dinilai belum merata dan menjadi pekerjaan besar bila kualitas para guru besar ingin dilakukan pemerataan.
Sidik menghitung, bila setiap tahun sepuluh kampus terbantu, pemerataan butuh waktu panjang.
“Itu artinya setidaknya butuh 12 tahun untuk memastikan semua kampus memiliki guru besar. Tentu bukan pekerjaan yang mudah,” ujar Sidik.
Karena itu, Sidik merasa forum ini dapat merangkul kampus yang belum memiliki guru besar. Menurutnya, mereka dapat hadir untuk benchmarking guna membangun ekosistem yang mempercepat lahirnya guru besar.
Sidik membeberkan bahwa jalan keluarnya adalah dengan menyatukan potensi guru besar yang ada. Ia menamai gagasan tersebut ‘Muhammadiyah United’.
“Dalam forum ini salah satu tujuannya kita ingin membentuk apa yang disebut Muhammadiyah United. Ini dimaksudkan sebagai wadah profesor Muhammadiyah bagi seluruh PTMA,” imbuhnya lagi.
Dengan begitu, Sidik optimis bahwa sekitar 500 guru besar di lingkungan PTMA dapat dioptimalkan bersama.
Langkah pertamanya memetakan keahlian guru besar yang selama ini belum teridentifikasi. Pemetaan mengelompokkan mereka berdasarkan rumpun ilmu, seperti Al-Islam, kependidikan, humaniora, ilmu alam, dan ilmu sosial.
Dari pemetaan tersebut, Sidik mengusulkan guru besar yang berkunjung ke kampus tidak sebatas mengajar sebagai dosen tamu. Ia mencontohkan, sekali guru besar datang bisa melaksanakan 5 sampai 6 fungsi.
Guru besar dapat menjadi dosen kedua yang mendampingi dosen lokal sebagai dosen utama. Menurut Sidik, skema tersebut juga dapat meningkatkan reputasi kampus. Mereka juga dapat terlibat dalam penelitian, pengabdian, dan publikasi.
“Peran lainnya adalah konsultan akademik bagi 162 PTMA,” jelas Sidik.
Guru Besar UMY di bidang keamanan manusia ini menambahkan, keahlian guru besar sangat dibutuhkan lembaga lain di persyarikatan Muhammadiyah. Ia mendapat informasi bahwa Majelis Tarjih menanti masukan profesor atas isu kontemporer, seperti Bitcoin dan label halal.
Forum menargetkan Pernyataan Bersama, Rekomendasi Strategis, Matriks Rencana Tindak Lanjut 2026-2027, dan kepengurusan Forkom GB-PTMA periode 2026-2030. Program lintas PTMA dapat dikembangkan melalui konsorsium atau kelompok kerja khusus. (lsi)
Sumber : Humas Umy






