JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Kabar duka datang dari Surabaya. Ketua DPRD Kota Surabaya, Dominikus Adi Sutarwijono, meninggal dunia di RS MRCCC Jakarta, Selasa (10/2/2026). Politikus PDI Perjuangan yang akrab disapa Awi itu dikenang sebagai sosok sederhana, komunikatif, dan dekat dengan rakyat.
Kepergian Awi meninggalkan duka mendalam bagi kolega dan sahabatnya. Ketua Komisi A DPRD DIY sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, menyebut almarhum sebagai kader berwatak pejuang yang rendah hati dan sabar dalam menjalankan tugas pelayanan publik.
“Kita kehilangan teman, sedulur, kader yang berwatak pejuang sederhana, rendah hati, dan sabar dalam melaksanakan tugasnya melayani masyarakat,” ujar Eko dalam keterangan tertulis, Kamis (12/2/2026).
Di Surabaya, Awi dikenal sebagai politisi yang membangun kedekatan dengan warga. Ia juga dinilai memiliki dedikasi kuat dalam bekerja bersama Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya untuk mendorong pembangunan kota. Rekam jejaknya di DPRD Surabaya memperlihatkan konsistensi pada isu pelayanan publik dan penguatan nilai kebangsaan.
Namun, perjalanan Awi tak hanya ditempa di panggung politik. Sebelum terjun penuh sebagai kader partai, ia pernah berkiprah sebagai wartawan di Surya dan Tempo biro Surabaya. Pengalaman jurnalistik itu membentuk kepekaannya terhadap persoalan masyarakat akar rumput—sebuah kualitas yang kemudian melekat dalam gaya kepemimpinannya.
Eko mengenang, dalam situasi genting pandemi Covid-19, Awi menunjukkan respons cepat ketika dimintai bantuan. “Tidak lama setelah saya kabarkan ada warga yang positif Covid di Surabaya, langsung dijemput tim kesehatan dan diantar ke rumah sakit rujukan. Alhamdulillah sembuh,” tuturnya. Bagi Eko, integritas dan dedikasi Awi terasa nyata dalam tindakan, bukan sekadar retorika.
Komitmen Awi pada ajaran dan pemikiran Presiden Pertama RI Soekarno juga menjadi ciri kuat kiprahnya. Ia disebut meneladani laku politik Bung Karno, terutama dalam menghidupkan nilai Pancasila di ruang publik.
Kenangan itu mengemuka saat Komisi A DPRD DIY berkunjung ke Surabaya pada 2020 dalam agenda “Sinau Pancasila”. Awi menyambut dan mengantar langsung rombongan ke rumah kelahiran Bung Karno serta Museum HOS Tjokroaminoto—tempat Bung Karno pernah menimba ilmu dan berinteraksi dengan para pemuda pejuang bangsa.
Dari dialog dan diskusi itulah, menurut Eko, lahir penguatan gagasan yang kemudian berkontribusi pada terbitnya Peraturan Daerah tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di DIY pada 2022. “Mas Awi memiliki kontribusi dalam dialog dan diskusi, utamanya saat berkunjung ke rumah kelahiran Bung Karno dan Museum HOS Tjokroaminoto,” ujarnya.
Jejak itu juga terdokumentasi dalam buku Sinau Pancasila yang telah terbit, mencatat percakapan lintas daerah tentang kebangsaan dan pendidikan ideologi.
Kepergian Awi menambah daftar tokoh lokal yang meninggalkan warisan kerja sunyi namun berdampak. Di mata sahabat dan koleganya, ia bukan hanya pejabat publik, melainkan penggerak yang bekerja tanpa banyak sorot lampu.
“Selamat berpulang, Mas Awi. Perjuanganmu tidak akan sia-sia. Kita akan terus menyalakan api perjuangan,” kata Eko.
Di tengah riuh politik dan dinamika kekuasaan, kisah Dominikus Adi Sutarwijono mengingatkan bahwa pelayanan, empati, dan keteguhan pada nilai kebangsaan tetap menjadi fondasi utama seorang wakil rakyat. (aga/ihd)






