JOGJAOKE.COM, Yogyakarta —Harga cabai merah keriting di pasar tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta mulai mengalami tekanan. Per 9 September 2026, harga komoditas tersebut tercatat Rp36.750 per kilogram, naik Rp1.750 atau sekitar 5 persen dibandingkan harga sebelumnya.
Kenaikan harga terjadi ketika pasokan cabai dari sejumlah daerah sentra produksi terganggu akibat tingginya curah hujan. Garut, Kediri, dan Magelang menjadi beberapa daerah yang disebut mengalami gangguan produksi.
Curah hujan tinggi memicu kerusakan tanaman, termasuk serangan penyakit patek. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya volume cabai yang dikirim ke pasar Yogyakarta.
Kondisi ini menunjukkan bahwa harga cabai masih sangat sensitif terhadap perubahan cuaca dan kelancaran distribusi. Ketika produksi di daerah sentra menurun, pasokan ke pasar konsumen ikut berkurang dan harga relatif cepat merespons.
Harga sejumlah pangan relatif stabil
Kenaikan cabai merah keriting belum diikuti perubahan berarti pada sebagian besar komoditas pangan lainnya. Berdasarkan pemantauan harga per 9 September, beberapa kebutuhan pokok masih berada pada harga yang relatif stabil.
| Komoditas | Harga per kg | Perubahan |
|---|---|---|
| Beras premium | Rp16.900 | Stabil |
| Beras medium | Rp15.400 | Stabil |
| Cabai rawit merah | Rp63.750 | Stabil |
| Cabai merah keriting | Rp36.750 | Naik Rp1.750 |
| Cabai merah besar | Rp37.500 | Stabil |
| Bawang merah | Rp37.500 | Stabil |
| Bawang putih | Rp42.750 | Stabil |
| Tomat | Rp14.300 | Naik Rp200 |
| Bawang bombay | Rp35.800 | Turun Rp500 |
| Tepung terigu | Rp12.100 | Turun Rp400 |
Selain cabai merah keriting, harga tomat juga meningkat, meskipun dalam skala terbatas. Harga tomat naik Rp200 menjadi Rp14.300 per kilogram.
Sebaliknya, harga bawang bombay turun Rp500 menjadi Rp35.800 per kilogram. Harga tepung terigu juga turun Rp400 menjadi Rp12.100 per kilogram.
Perbedaan arah pergerakan harga tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga pangan tidak terjadi secara merata. Komoditas yang produksinya sangat bergantung pada kondisi cuaca, seperti cabai, cenderung lebih mudah mengalami perubahan harga ketika pasokan terganggu.
Pergerakan harga perlu dipantau
Data harga pangan Yogyakarta yang bersumber dari PIHPS Bank Indonesia juga menunjukkan adanya pergerakan harga cabai. Pada 7 September 2026, rata-rata harga cabai merah di Yogyakarta tercatat sekitar Rp36.250 per kilogram. Pada periode yang sama, harga cabai rawit sekitar Rp55.000 per kilogram.
Secara nasional, tekanan harga cabai bahkan lebih tinggi. PIHPS pada 8 September 2026 mencatat harga cabai merah keriting di tingkat pedagang eceran nasional sebesar Rp78.450 per kilogram dan cabai rawit merah Rp94.900 per kilogram.
Namun, angka nasional tersebut tidak dapat langsung dibandingkan dengan harga di Yogyakarta karena karakteristik pasokan dan pasar setiap daerah berbeda. Perbedaan harga juga dapat dipengaruhi oleh jarak daerah produsen, biaya distribusi, dan kondisi pasokan di masing-masing pasar.
Dalam jangka pendek, perkembangan harga cabai di Yogyakarta akan sangat ditentukan oleh kondisi cuaca di daerah sentra produksi. Jika curah hujan tinggi terus berlangsung dan kerusakan tanaman meluas, pasokan berpotensi kembali berkurang.
Sebaliknya, apabila cuaca membaik dan distribusi dari daerah produsen kembali lancar, tekanan terhadap harga cabai di tingkat konsumen dapat mereda.
Pemerintah daerah perlu mempertahankan pemantauan harga dan pasokan, terutama terhadap komoditas pangan yang memiliki volatilitas tinggi. Langkah tersebut penting untuk mencegah kenaikan harga cabai berkembang menjadi tekanan inflasi pangan yang lebih luas.
Sejauh ini, relatif stabilnya harga beras, bawang, daging, dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya menjadi penyangga. Dengan demikian, kenaikan harga cabai merah keriting masih lebih mencerminkan persoalan pasokan komoditas tertentu daripada kenaikan harga pangan secara menyeluruh. (ihd)






