JOGJAOKE.COM, Bantul — Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Pariwisata DIY melaksanakan soft launching fasilitas glamour camping (glamping) Pinus Pengger di kawasan Wana Wisata Budaya Mataram Mangunan, Dlingo, Bantul, Selasa (30/12/2025). Kehadiran glamping ini menjadi bagian dari upaya pengembangan wisata alam berbasis masyarakat yang kolaboratif dan berkelanjutan guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pengembangan Glamping Pinus Pengger dilakukan dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pengelola serta didukung dunia usaha melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSL). Skema kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas destinasi wisata sekaligus memperkuat pemulihan ekonomi masyarakat di kawasan perdesaan.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam menghadirkan fasilitas wisata baru di kawasan hutan pinus. Menurutnya, pengembangan glamping di Pinus Pengger merupakan wujud nyata pendekatan pentahelix dalam pembangunan pariwisata.
“Ini bukti bahwa kolaborasi dapat mewujudkan cita-cita yang sudah lama direncanakan. Lokasinya memiliki keindahan alami yang kuat, dan kehadiran glamping memberikan nilai tambah pengalaman bagi wisatawan,” ujar Ni Made.
Ia menjelaskan, nantinya akan tersedia 10 unit glamour camp dengan beragam konsep. Keberagaman pilihan akomodasi tersebut dinilai penting agar destinasi tidak saling berkompetisi, melainkan saling melengkapi. Ni Made juga menekankan pentingnya promosi sejak tahap awal serta kesiapan sumber daya manusia dan pengelolaan berkelanjutan sebelum glamping resmi beroperasi pada pertengahan 2026.
Dukungan terhadap pengembangan Glamping Pinus Pengger juga datang dari PT Angkasa Pura I melalui program TJSL. Branch Communication and CSR Department Head Bandara Internasional Yogyakarta, Anita Herawati, menyebutkan bahwa pada 2025 Angkasa Pura I menyalurkan bantuan untuk pembangunan empat unit glamping serta peningkatan fasilitas wisata berbasis alam dan kearifan lokal.
“Pengembangan ini diharapkan meningkatkan daya saing destinasi, memperpanjang lama tinggal wisatawan, dan mendorong perputaran ekonomi masyarakat setempat,” kata Anita.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, mengungkapkan bahwa tingginya tingkat kunjungan wisatawan selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menjadi momentum untuk pemerataan destinasi. Berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), tingkat okupansi hotel di Kota Yogyakarta dan Sleman mencapai 80–85 persen, sementara di kabupaten lain berada di kisaran 80 persen.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya distribusi wisatawan ke wilayah lain. Pinus Pengger diharapkan menjadi alternatif lokasi menginap ketika glamping mulai beroperasi,” ujar Imam.
Ia menambahkan, kesiapan sumber daya manusia pengelola menjadi kunci untuk menghadirkan pengalaman wisata berkualitas dan mendorong kunjungan ulang. Menurutnya, kawasan hutan pinus perlu dikembangkan sebagai destinasi eksklusif dengan pengalaman yang berbeda.
Ketua Koperasi Notowono selaku pengelola Pinus Pengger, Purwo Harsono, menyebut kehadiran glamping sebagai momentum kebangkitan ekonomi masyarakat pascapandemi. “Kami menyiapkan 10 unit glamour camp dengan segmen pasar yang beragam. Harapannya, ini dapat memberdayakan masyarakat dan memberi manfaat ekonomi bersama,” katanya.
Sementara itu, Ketua PHRI Bantul, Yohanes Hendra Dwi Utomo, menilai glamping Pinus Pengger akan memperkaya pilihan akomodasi di Bantul yang selama ini masih terbatas. Ia menekankan pentingnya pengelolaan profesional agar wisatawan memperoleh pengalaman yang berkesan.
“Pengalaman wisata yang berkualitas menjadi kunci pariwisata berkelanjutan. Kami berharap kehadiran glamping ini dapat memberi kontribusi nyata bagi perekonomian dan pengembangan pariwisata Bantul,” ujarnya. (ihd)






