FORMAS Dorong Ormas Jadi Mitra Strategis dalam Memperkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

Senin, 10 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, JAKARTA – Konsolidasi Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) dinilai tidak lagi sekadar memperluas jumlah organisasi kemasyarakatan yang tergabung, tetapi mulai diarahkan untuk memperkuat kontribusi masyarakat sipil dalam pembangunan sumber daya manusia, termasuk melalui ketahanan kesehatan.

Sebanyak 20 organisasi kemasyarakatan baru dikukuhkan dalam konsolidasi FORMAS di Aula Universitas Podomoro, Jakarta, Jumat (7/8) malam. Dengan penambahan tersebut, jumlah organisasi yang tergabung dalam FORMAS mencapai 103 organisasi.

Ketua Dewan Pembina FORMAS Hashim Djojohadikusumo menekankan pentingnya kesejahteraan masyarakat, program Makan Bergizi Gratis (MBG), penanganan stunting, serta peningkatan kesehatan masyarakat sebagai bagian dari pembangunan Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum FORMAS Yohanes Handojo Budhisedjati mengatakan pendidikan dan kesehatan masyarakat menjadi bagian penting dalam agenda organisasi untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

“Kalau kita berbicara tentang Indonesia Emas, maka yang harus dibangun bukan hanya ekonominya, tetapi juga manusianya. Pendidikan dan kesehatan menjadi bagian penting dari pembangunan tersebut,” kata Yohanes.

Menurut dia, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan perlu dilakukan sejak dini sehingga masyarakat tidak hanya berorientasi pada pengobatan ketika sakit, tetapi mampu mencegah berbagai gangguan kesehatan.

Ketahanan kesehatan bagian dari ketahanan nasional

Pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa ketahanan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pertahanan dan ekonomi, tetapi juga kemampuan menjaga kesehatan masyarakat serta menjamin ketersediaan obat, vaksin, alat kesehatan dan bahan baku farmasi.

Dalam konteks tersebut, ketahanan kesehatan menjadi bagian penting dari ketahanan nasional.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga menempatkan transformasi sistem ketahanan kesehatan sebagai salah satu pilar transformasi kesehatan, termasuk melalui penguatan produksi dalam negeri dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat kesehatan.

Rencana kolaborasi FORMAS dengan Kementerian Pertahanan dalam bidang kesehatan preventif dinilai dapat menjadi bagian dari upaya memperluas keterlibatan masyarakat dalam membangun ketahanan kesehatan.

FORMAS memiliki jaringan organisasi masyarakat yang dekat dengan masyarakat, sedangkan Kementerian Pertahanan mempunyai infrastruktur kesehatan, tenaga medis, dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Kolaborasi tersebut dapat diarahkan pada kegiatan promotif dan preventif, seperti edukasi kesehatan keluarga, literasi kesehatan, deteksi dini faktor risiko penyakit, pola hidup sehat, serta pemanfaatan tanaman obat secara aman dan berbasis bukti ilmiah.

Dorong pemanfaatan tanaman obat

Yohanes juga menyampaikan gagasan mengenai pemanfaatan tanaman obat atau herbal sebagai salah satu potensi kesehatan masyarakat.

Namun, pemanfaatan herbal dinilai perlu dilakukan secara hati-hati dengan mengedepankan standar keamanan, mutu dan pembuktian ilmiah.

Produk herbal memiliki tingkatan, mulai dari jamu hingga obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Fitofarmaka merupakan produk yang telah melalui pembuktian praklinik dan klinik serta memenuhi standar bahan baku dan produk.

Karena itu, pengembangan tanaman obat nasional tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan tradisional, tetapi perlu didukung penelitian, standardisasi, regulasi dan pengembangan industri.

Langkah tersebut juga dapat membuka ruang kerja sama antara organisasi masyarakat, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, lembaga penelitian, industri farmasi, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertahanan.

Kemhan buka ruang kemandirian farmasi

Penguatan kemandirian farmasi juga mulai mendapat perhatian di lingkungan Kementerian Pertahanan.

Pada 14 Juli 2026, Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan meresmikan Apotek Farmasi Pertahanan Baharwathan di Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara (RSPPN) Soedirman.

Fasilitas tersebut diarahkan untuk mendukung ketersediaan obat yang aman dan bermutu sekaligus memperkuat kemandirian farmasi pertahanan. Pada kesempatan yang sama diperkenalkan Kafe Jamu Rempah sebagai bagian dari pelayanan kesehatan promotif berbasis kearifan lokal dengan pendekatan ilmiah.

Perkembangan tersebut dinilai membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara FORMAS dan Kementerian Pertahanan dalam membangun ekosistem kesehatan nasional.

“Potensi kita sangat besar. Tetapi semua harus dilakukan secara ilmiah, terukur, dan melibatkan pihak yang memiliki kompetensi,” ujar Yohanes.

Perkuat edukasi kesehatan sejak dini

Menurut Yohanes, pendekatan preventif harus menjadi perhatian karena kesehatan masyarakat tidak semestinya baru ditangani ketika seseorang telah mengalami penyakit.

Pendidikan kesehatan sejak usia dini, kata dia, penting untuk meningkatkan pemahaman mengenai gizi, kebersihan, aktivitas fisik, kesehatan mental, penggunaan obat secara tepat serta pentingnya pemeriksaan kesehatan.

Hal tersebut berkaitan langsung dengan pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Bonus demografi akan menjadi kekuatan apabila penduduk usia produktif memiliki kondisi kesehatan yang baik.

Sebaliknya, persoalan gizi buruk, stunting, obesitas, diabetes, hipertensi dan penyakit tidak menular lainnya dapat menjadi beban sosial dan ekonomi apabila tidak dicegah sejak dini.

Dalam konteks itu, perhatian FORMAS terhadap MBG dan stunting dinilai memiliki kaitan erat dengan pembangunan kualitas manusia.

Program pemenuhan gizi perlu berjalan beriringan dengan edukasi keluarga, sanitasi, air bersih, perilaku hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan.

103 ormas berpotensi jadi jaringan edukasi

Dengan bergabungnya 103 organisasi, FORMAS memiliki jaringan sosial yang cukup besar untuk mendorong edukasi kesehatan hingga tingkat masyarakat.

Namun, besarnya jumlah organisasi perlu diikuti dengan program yang konkret dan terukur agar konsolidasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Setiap organisasi dapat mengambil peran dalam kegiatan literasi kesehatan, edukasi gizi, kampanye hidup sehat dan pengenalan penggunaan obat herbal yang aman dengan tetap melibatkan tenaga kesehatan sebagai rujukan ilmiah.

“Organisasi masyarakat jangan hanya menjadi pelaksana kegiatan. Kita harus bisa menjadi bagian dari solusi dan memastikan program yang dijalankan benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Yohanes.

Menurut dia, masyarakat sipil dapat memperkuat program pemerintah tanpa mengambil alih fungsi negara.

Kemandirian farmasi dan penguatan industri dalam negeri

Kemandirian kesehatan juga berkaitan dengan kemampuan Indonesia memproduksi kebutuhan kesehatan di dalam negeri.

Ketergantungan terhadap bahan baku dan produk kesehatan dari luar negeri dapat menjadi persoalan ketika terjadi gangguan rantai pasok global. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu pelajaran penting mengenai kondisi tersebut.

Karena itu, pengembangan obat dan produk kesehatan dalam negeri, termasuk fitofarmaka berbasis kekayaan hayati Indonesia, dapat menjadi salah satu bagian dari upaya membangun kemandirian kesehatan.

Namun, pengembangan tersebut tetap harus memenuhi persyaratan keamanan, mutu, khasiat, regulasi dan pembuktian ilmiah.

Kemitraan tetap perlu menjaga fungsi masyarakat sipil

Di sisi lain, semakin besar keterlibatan FORMAS dalam mendukung program pemerintah, semakin penting menjaga keseimbangan antara kemitraan dan independensi masyarakat sipil.

Keberhasilan konsolidasi tidak semata-mata diukur dari jumlah kegiatan, tetapi dari manfaat nyata yang diterima masyarakat.

Indikatornya antara lain peningkatan literasi kesehatan, akses masyarakat terhadap layanan dan obat, pemahaman penggunaan herbal secara aman, peningkatan kesadaran terhadap deteksi dini penyakit serta keberlanjutan program di tingkat masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, FORMAS dapat berperan sebagai penghubung antara pemerintah, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, industri dan masyarakat.

Pengukuhan 20 organisasi baru pada akhirnya dapat menjadi momentum untuk mengubah konsolidasi kelembagaan menjadi konsolidasi sosial yang menghasilkan program nyata.

Dengan jaringan 103 organisasi, FORMAS memiliki peluang membangun partisipasi masyarakat dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

Sebab, pembangunan Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi dan kekuatan pertahanan, tetapi juga manusia yang sehat dan produktif.

“Indonesia Emas harus dibangun oleh manusia Indonesia yang sehat, berkualitas, dan memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatannya sendiri,” kata Yohanes.(*)

Berita Terkait

Meneladan Pahlawan di Hari Kemerdekaan
Lapas Kelas IIA Serang Dorong Sportivitas Lewat Gelaran Porsenap
Diadili di PN Jakarta Utara, Saksi Bongkar Dugaan Pemukulan oleh Terdakwa Rohana
Berkah Doa Ibu, Bisnis Kuliner Aldi Taher Makin Berkembang dengan Cabang Kedua
Developer Bintaro Plaza Residences Dinilai Belum Penuhi Komitmen Pasca Mediasi
Felicia Menang The Icon Indonesia 2026, Trinity Optima Production Resmikan Debut Dua Finalis Terbaik
Eks Wakil PPATK: Penyidik Harus Uji Asal-usul Kekayaan Febrie Adriansyah
Dirpamobvit Korsabhara Baharkam Polri Terima Kunjungan Perkenalan Kedutaan Besar Singapura, Bahas Pengamanan hingga Hari Nasional

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:13 WIB

FORMAS Dorong Ormas Jadi Mitra Strategis dalam Memperkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 08:54 WIB

Lapas Kelas IIA Serang Dorong Sportivitas Lewat Gelaran Porsenap

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 08:48 WIB

Diadili di PN Jakarta Utara, Saksi Bongkar Dugaan Pemukulan oleh Terdakwa Rohana

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 08:21 WIB

Berkah Doa Ibu, Bisnis Kuliner Aldi Taher Makin Berkembang dengan Cabang Kedua

Jumat, 7 Agustus 2026 - 08:40 WIB

Developer Bintaro Plaza Residences Dinilai Belum Penuhi Komitmen Pasca Mediasi

Berita Terbaru

Yogyakarta

Fakultas Hukum UWM Tebar Literasi, Nyalakan Harapan Lapas

Senin, 10 Agu 2026 - 10:54 WIB