JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) memastikan keberlanjutan studi lebih dari 1.700 mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di DIY dan terdampak bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Sumatra. Upaya tersebut dilakukan melalui pendataan lintas perguruan tinggi, pemberian keringanan biaya kuliah, hingga dukungan psikososial bagi mahasiswa yang mengalami tekanan ekonomi dan mental akibat bencana.
Komitmen itu mengemuka dalam pertemuan antara Asisten Sekretaris Daerah Pemda DIY Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Aria Nugrahadi dengan Direktur Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM) Rustamaji di Kantor Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Selasa (16/12). Pertemuan tersebut menjadi tindak lanjut koordinasi Pemda DIY dengan delapan perguruan tinggi negeri di DIY.
Aria menegaskan, Pemda DIY bergerak cepat menindaklanjuti arahan Gubernur DIY agar mahasiswa yang orang tuanya terdampak bencana segera didata. Langkah itu dinilai penting agar proses pembelajaran tidak terhenti. “Pendataan menjadi pintu masuk utama untuk memastikan mahasiswa tetap bisa melanjutkan studi, meski keluarga mereka mengalami tekanan ekonomi maupun psikologis,” ujarnya.
Pendataan dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari asrama mahasiswa hingga korespondensi resmi dengan pimpinan perguruan tinggi dan akademi. Namun, Aria mengakui keterbatasan anggaran dan sumber daya membuat Pemda DIY perlu memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi. “Setelah pendataan, bantuan dimungkinkan diberikan secara tunai dengan skema yang akuntabel dan berbasis Surat Keputusan Gubernur,” kata Aria.
Bantuan akan disalurkan berdasarkan data nama dan nomor induk kependudukan (NIK) yang diverifikasi oleh otoritas perguruan tinggi. Dukungan yang disiapkan mencakup bantuan biaya hidup, pendampingan psikososial, hingga bantuan teknis lain sesuai kebutuhan mahasiswa. Pemda DIY menargetkan proses pendataan dan verifikasi rampung sebelum akhir 2025.
Dukungan lintas sektor juga digerakkan. Dinas Sosial DIY menyalurkan bantuan dengan komitmen pencairan rutin bulanan, sementara Dinas Pemuda dan Olahraga DIY mengoordinasikan pendataan mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta. Berdasarkan laporan LLDIKTI DIY, tercatat 388 mahasiswa dari 31 perguruan tinggi swasta terdampak bencana, dari total 38 perguruan tinggi yang akan terus disinkronkan datanya.
Di UGM, pendataan menunjukkan 218 keluarga mahasiswa terindikasi terdampak bencana banjir bandang dan longsor di daerah asal. Rustamaji menyebutkan, mahasiswa tersebut berasal dari sejumlah provinsi, antara lain Aceh (81 mahasiswa), Sumatra Utara (93), dan Sumatra Barat (43), dengan sebagian masih dalam tahap verifikasi di tingkat fakultas dan program studi.
“Kami melakukan pendataan menyeluruh, mulai dari kebutuhan keringanan UKT, bantuan biaya hidup, hingga pendampingan konseling. Kami berupaya memastikan tidak ada mahasiswa terdampak yang terlewat,” ujar Rustamaji. Ia menambahkan, sebagian mahasiswa bahkan berpotensi mengajukan cuti akademik karena kondisi keluarga yang kehilangan tempat tinggal atau sumber penghasilan.
Sebagai langkah awal, UGM telah menyalurkan berbagai bantuan, antara lain voucher makan dua kali sehari, voucher makan di kantin Fakultas Ekonomika dan Bisnis, serta bantuan finansial sebesar Rp 2 juta per mahasiswa yang disalurkan pada Desember hingga Januari untuk mahasiswa Fakultas Farmasi.
Pemda DIY dan UGM sepakat terus menyinkronkan data dengan perguruan tinggi lain, LLDIKTI, serta perangkat daerah terkait. Aria menegaskan, keberpihakan kepada mahasiswa merupakan bagian dari jati diri DIY sebagai kota pelajar. “DIY adalah rumah bagi mahasiswa dari berbagai daerah. Karena itu, mereka yang terdampak bencana tetap menjadi perhatian kami,” ujarnya. (ihd)






