Pencegahan Radikalisme Anak Dibahas dalam FGD Bersama Eks NII Roki Apris Dianto

Rabu, 3 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGEJAOKE.COM, Bandung — Mantan narapidana terorisme sekaligus eks anggota NII, Roki Apris Dianto, menyampaikan pandangannya mengenai upaya pencegahan radikalisme pada anak dalam sebuah forum Focus Group Discussion (FGD).

Melalui keterangannya, Rabu (3/12), Roki menekankan bahwa, ancaman radikalisme terhadap pelajar masih perlu diwaspadai. Ia menyinggung kembali insiden ledakan bom di SMAN 72 yang menjadi salah satu bukti bahwa kelompok radikal dapat menyasar anak-anak.

Menurutnya, anak-anak merupakan target yang mudah dipengaruhi karena memiliki karakter yang tulus, mudah percaya, dan rentan terhadap doktrin. “Ketika saya masih berada di lingkaran radikal, kelompok kami memang menjadikan anak usia sekolah sebagai sasaran rekrutmen,” ungkap Roki.

Ia menjelaskan bahwa, lingkungan pergaulan memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang anak. Lingkungan yang positif akan mendorong anak mencari konten yang bermanfaat di internet. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat menyeret anak ke konsumsi konten negatif di media sosial. Karena itu, ia menekankan pentingnya kepedulian orang tua dalam memantau pergaulan anak.

Roki juga menyoroti temuan tulisan tertentu pada senjata pelaku dalam kasus bom SMAN 72, yang menurutnya menunjukkan adanya pola ajaran terselubung.

Ia menduga pola-pola tersebut masih berkembang, termasuk pola penyamaran yang kerap diajarkan dalam jaringan NII.

“Terorisme itu seperti ketapel dan tsunami tidak terdeteksi, tapi ketika muncul dampaknya sangat besar,” ujar Roki.

Ia mengingatkan agar kewaspadaan terus ditingkatkan, khususnya untuk melindungi anak-anak dari paparan paham ekstrem.

Sebagai penutup, Roki menyampaikan pesan moral dengan mengutip ajaran Sultan Agung Hanyokrokusumo: “Mangasah mingising budi memasuh malaning bumi” Ia menjelaskan bahwa makna kalimat tersebut adalah pentingnya mengasah budi pekerti untuk membasuh melapetaka di bumi. (*)

Berita Terkait

500 Insan Pers Bekasi, Karawang, dan Purwakarta Hadiri Silaturahmi Akbar di Karawang
Diskusi Publik di Universitas Padjadjaran Tegaskan Urgensi Pengesahan RUU Masyarakat Adat
Sebar Tajil Kurma dan Musabaqoh, Ramadhan Expo Cibatu Hadirkan Ragam Kegiatan Sosial-Religi
Seminar Nasional di Garut Soroti Kemandirian Ekonomi Umat
Catatan Akhir Sekolah Perkuat Silaturahmi dan Pembinaan Pelajar di Kota Bogor
Menko AHY Soroti Pentingnya Konsistensi Kebijakan dalam Rakornas 2026
Presiden Prabowo Tegaskan Pentingnya Sinergi Pusat dan Daerah pada Rakornas 2026
Wujud Kepedulian TNI AU, Personel Lanud Husein Sastranegara Bantu Pemulihan Pascabencana Longsor

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 09:40 WIB

500 Insan Pers Bekasi, Karawang, dan Purwakarta Hadiri Silaturahmi Akbar di Karawang

Rabu, 25 Februari 2026 - 18:19 WIB

Diskusi Publik di Universitas Padjadjaran Tegaskan Urgensi Pengesahan RUU Masyarakat Adat

Minggu, 22 Februari 2026 - 13:22 WIB

Sebar Tajil Kurma dan Musabaqoh, Ramadhan Expo Cibatu Hadirkan Ragam Kegiatan Sosial-Religi

Kamis, 19 Februari 2026 - 17:07 WIB

Seminar Nasional di Garut Soroti Kemandirian Ekonomi Umat

Jumat, 6 Februari 2026 - 21:17 WIB

Catatan Akhir Sekolah Perkuat Silaturahmi dan Pembinaan Pelajar di Kota Bogor

Berita Terbaru