JOGJAOKE.COM, Sleman – Anak-anak SPS Asparagus II Sleman belajar berwirausaha sekaligus mencintai budaya melalui Pasar Tiban Jajanan Tradisional yang digelar selama dua hari sejak dini.
Kegiatan berlangsung di Babadan Baru, Padukuhan Kentungan, Condongcatur, Depok, Sleman, Kamis hingga Jumat, 29–30 Oktober 2026, dengan suasana pasar tradisional yang meriah.
Ruang belajar berubah menjadi pasar mini. Anak-anak mengenakan batik dan lurik, lalu bergantian menjadi penjual serta pembeli aneka jajanan tradisional khas Nusantara.
Kepala SPS Asparagus II, Muflichah, S.E., menjelaskan kegiatan tersebut merupakan puncak kokurikuler semester ganjil Tahun Ajaran 2026/2027 dengan mengangkat tema Tanaman.
Menurut Muflichah, rangkaian pembelajaran berlangsung lima hari, mulai Senin hingga Jumat, 26–30 Oktober 2026, dengan kegiatan yang saling berkaitan secara menyenangkan.
Pembelajaran dirancang memberikan pengalaman langsung kepada anak, sehingga mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan pendidik, tetapi juga mempraktikkan pengetahuan dalam kegiatan sehari-hari.
Rangkaian dimulai Senin melalui kegiatan Asyiknya Menanam Jagung. Anak-anak mengenal biji, media tanam, serta cara menanam untuk memahami pertumbuhan tanaman sejak dini.
Pada Selasa, peserta didik menyaksikan video tanaman sayur. Media audiovisual membantu mereka mengenali beragam sayuran serta manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari secara menyenangkan.
Berikutnya, Rabu, anak-anak praktik membuat jasuke atau jagung susu keju. Mereka belajar mengolah hasil tanaman menjadi makanan sederhana secara bersama.
Pembelajaran ditutup melalui Pasar Tiban Jajanan Tradisional. Kelas Sadewa mengikuti kegiatan Kamis, sedangkan Kelas Nakula mendapat giliran pada Jumat secara bergantian.
Kelima agenda disusun bertahap, mulai mengenal tanaman, memahami manfaat, mengolah hasil pertanian, hingga mempraktikkan kegiatan ekonomi sederhana melalui permainan yang menyenangkan.
Di dalam kelas, lapak-lapak dihias ornamen bernuansa Jawa. Para orang tua menyiapkan jajanan, kemasan, serta dekorasi untuk menghidupkan suasana pasar tradisional.
Anak-anak kemudian berlatih menyapa pembeli, menawarkan dagangan, menyampaikan keinginan, mengenali harga, serta menggunakan uang sebagai alat pembayaran dalam transaksi sederhana bersama pendidik.
Pengalaman berjualan dan membeli melatih keberanian, percaya diri, kemandirian, komunikasi, kerja sama, serta kesabaran anak ketika menunggu giliran selama kegiatan berlangsung.
Berbagai jajanan dijual seharga Rp3.000, mulai dadar gulung, lopis, klepon, lumpia, bubur kacang hijau, hingga kolak pisang dan onde-onde mini pilihan.
Ada pula ongol-ongol singkong, es setup nanas, putu ayu, cenil, apem, talam, lemet singkong, serta aneka olahan pangan lokal lainnya tersedia.
Melalui ragam hidangan tersebut, anak-anak berkesempatan mengenal kuliner tradisional yang mungkin belum pernah mereka jumpai ataupun cicipi sebelumnya di sekolah setempat.
Jajanan dipilih karena dekat dengan kehidupan masyarakat dan mencerminkan kekayaan kuliner Nusantara yang diwariskan secara turun-temurun antargenerasi hingga kini sebagai warisan budaya.
Bahan pangan lokal seperti singkong, jagung, pisang, beras ketan, tepung beras, kelapa, dan gula jawa turut diperkenalkan kepada peserta didik setempat.
Anak-anak memahami tanaman dapat diolah menjadi makanan. Mereka juga melihat proses pembuatan, menata dagangan, hingga mencoba transaksi jual beli secara langsung bersama orang tua.
Suasana semakin semarak melalui lomba Jajanan Tradisional Terenak dan Lapak Jualan Terkreatif, sebagai apresiasi kreativitas serta kekompakan para wali murid peserta kegiatan.(ady)






