JOGJAOKE.COM, Yogyakarta – Penggunaan program kecerdasan buatan atau AI seperti ChatGPT untuk menambah pengetahuan kesehatan semakin sering dilakukan oleh masyarakat. Walau hai ini dinilai boleh dilakukan, namun tetap memerlukan konfirmasi lebih lanjut kepada dokter atau tenaga kesehatan.
Tak hanya itu, fenomena ini juga dibarengi dengan beberapa tantangan dalam pemanfaatan aplikasi kesehatan digital di Indonesia. Tantangan yang masih dihadapi ini seperti keamanan dan privasi data pribadi, kesenjangan infrastruktur dan konektivitas, kurangnya literasi digital, sistem antar-fasilitas kesehatan yang sering kali belum terhubung dengan baik (interoperabilitas sistem), serta keterbatasan sumber daya manusia yang ahli di bidang IT.
Dr. apt. Muhammad Thesa Ghozali, M.Sc., dosen program studi farmasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyampaikan pandangannya akan hal tersebut. Baru-baru ini, Ghozali berhasil masuk jajaran Highly Ranked Scholar versi ScholarGPS pada tahun 2026.
Pandangan Ghozali ini berangkat dari penelitiannya sendiri. Pada 2025, ia meneliti seberapa akurat dan andal jawaban ChatGPT atas pertanyaan pengetahuan umum seputar asma, termasuk implikasinya bagi pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI dalam edukasi kesehatan masyarakat.
Pada tahun yang sama, Ghozali turut mengkaji jawaban chatbot AI seputar pengetahuan diabetes, dengan menilai seberapa mudah dibaca dan seberapa andal jawabannya.
Dalam studi mengenai program-program AI termasuk ChatGPT tersebut, Ghozali menguji salah satu versi yang menurutnya, tingkat akurasinya belum maksimal. Namun ia juga tidak memungkiri bahwa versi yang terbaru terus diperbarui secara akurasi dan ketepatan data.
“Kalau sekadar untuk pengetahuan, kita tidak bisa melarang, jadi itu boleh dan tidak masalah. Akan tetapi, informasi yang didapat oleh pengguna masih harus dikonfirmasi ke ahli, misalnya dokter atau tenaga kesehatan lain, supaya tidak ada misinformasi,” ujar Ghozali saat diwawancarai pada Rabu (28/10).
Kesiapan Teknologi Digital Indonesia Belum Maksimal
Ghozali sendiri banyak meneliti teknologi informasi untuk sistem manajerial di bidang kesehatan. Ia juga menyoroti kesiapan teknologi kesehatan digital di Indonesia. Menurutnya, secara penelitian, era aplikasi seluler yang berdiri sendiri ( stand alone ) sudah berakhir. Namun, implementasinya di Indonesia baru mulai diterapkan.
Soal kebijakan, Ghozali menyebut para tenaga kesehatan di lapangan masih mengikuti arahan pemerintah, misalnya Kementerian Kesehatan dan Kementerian Komunikasi dan Digital. Meski implementasinya mulai berjalan, sejumlah hal masih menjadi perhatian.
“Pengguna aplikasi seluler itu kebanyakan masih awam, sehingga belum paham soal privasi data, keamanan siber, dan keamanan-keamanan lainnya. Itu yang saat ini cukup menjadi perhatian dan memerlukan edukasi,” jelasnya lagi.
Persoalan lainnya adalah pemerataan penggunaan aplikasi. Ghozali menambahkan, aplikasi tersebut bergantung pada koneksi internet. Di pulau Jawa dan kota besar seperti Jakarta, koneksinya memang relatif baik. Sebaliknya, di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), hal tersebut jelas menjadi hambatan.
Ke depan, Ghozali berharap hasil risetnya dapat membantu apoteker dan tenaga kesehatan di lapangan. Menurutnya, aplikasi seluler yang berdiri sendiri bermanfaat untuk pertukaran data antara apoteker dan pasien, seperti kepatuhan minum obat, rekam medis, dan penggunaan obat.
“Namun, manfaatnya tentu akan lebih besar jika dikombinasikan dengan teknologi terbaru, misalnya Internet of Medical Things (IoMT),” pungkas Ghozali (lsi).
Sumber : Humas Umy






