JOGJAOKE.COM, Yogyakarta – Pertemuan massa mahasiswa dan suporter sepak bola dalam aksi demonstrasi berpotensi memperbesar daya dorong aksi. Namun, pertemuan tersebut juga dinilai rawan stereotip dan provokasi bila tidak dikelola dengan baik. Pakar menilai kedua kelompok dan aparat perlu menyiapkan pendekatan sejak awal.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Fajar Junaedi, M.Si., memberikan tanggapannya atas kabar bergabungnya suporter PSS Sleman, PSIM Yogyakarta, dan Persiba Bantul dalam aksi demonstrasi di Yogyakarta yang direncanakan pada Rabu (28/10).
Keterlibatan para suporter sendiri masih berupa narasi di media sosial dan belum dikonfirmasi pihak terkait.
Mahasiswa dan Suporter Punya Kekuatan Berbeda
Fajar menilai pertemuan dua kelompok massa tersebut membawa sisi positif. Energi mobilisasi menjadi lebih besar, sementara basis aksi menjadi lebih beragam. Keduanya juga dapat saling mengisi karena memiliki kekuatan yang berbeda.
“Keduanya bisa saling melengkapi. Mahasiswa kuat di argumentasi, sedangkan suporter kuat di disiplin massa. Kalau dua kekuatan itu bertemu dengan baik, aksi akan punya energi yang lebih besar dan basis yang lebih beragam,” ujar Fajar saat diwawancarai pada Rabu (28/10).
Meski begitu, dirinya mengingatkan bahwa pertemuan tersebut tidak lepas dari risiko. Stereotip kekerasan yang masih melekat pada suporter menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai.
Perbedaan gaya antara orasi mahasiswa dan chant suporter juga berpotensi menimbulkan gesekan. Selain itu, Fajar mengingatkan adanya kemungkinan provokasi dari pihak luar yang memanfaatkan perbedaan karakter kedua massa.
Untuk meredam risiko tersebut, dirinya yang juga merupakan pengamat sepak bola ini menekankan pentingnya kesepakatan di antara kedua kelompok sejak awal. Kesepakatan itu mencakup pembagian peran, kode komunikasi, dan mekanisme deeskalasi apabila situasi memanas.
“Dengan begitu, ketika ada gesekan, kedua pihak sudah tahu apa yang harus dilakukan dan tidak saling menyalahkan,” paparnya.
Fajar juga menyarankan agar kedua kelompok tetap berfokus pada tujuan bersama. Atribut yang berpotensi memicu rivalitas internal sebaiknya dihindari. Dengan begitu, perbedaan identitas tidak menjadi pemicu perpecahan di tengah aksi.
Aparat Perlu Bangun Komunikasi Setara
Di sisi lain, aparat dan pemerintah daerah turut memegang peran dalam menjaga aksi tetap damai. Fajar menilai pendekatan terhadap massa tidak bisa disamaratakan, termasuk terhadap massa suporter.
Ia menyebut suporter cenderung lebih responsif terhadap komunikasi yang langsung, setara, dan tidak merendahkan. Pelibatan perwakilan suporter sejak awal dinilai Fajar lebih efektif dibandingkan pendekatan represif.
“Jangan perlakukan semua massa dengan cara yang sama. Suporter lebih responsif pada komunikasi yang langsung, setara, dan tidak merendahkan. Libatkan perwakilan mereka sejak awal, jangan hanya mengandalkan pendekatan represif yang berangkat dari stereotip,” pungkas Fajar. (lsi)
Sumber : Humas Umy






