JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Demangan Fest #2 tidak sekadar menghadirkan keramaian. Festival yang berlangsung di kawasan SD Muhammadiyah Sapen, Kelurahan Demangan, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Minggu (25/10/2026), ini menjadi ruang pertemuan antara geliat ekonomi warga, kreativitas, edukasi lingkungan, dan keberagaman seni budaya.
Diprakarsai Karang Taruna Muda Bhakti Praja Kelurahan Demangan, kegiatan yang menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta ini melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari 12 RW. Sejak pagi hingga malam, pengunjung disuguhi berbagai kegiatan, mulai dari senam bersama, bazar UMKM, pemeriksaan kesehatan gratis, talkshow, hingga pertunjukan seni dan musik.
Antusiasme masyarakat turut membawa berkah bagi para pedagang. Bahkan, sebelum rangkaian acara berakhir, sejumlah pelaku UMKM mengaku kewalahan melayani pembeli karena dagangan mereka laris.
Dagangan Laris, Pelaku UMKM Kewalahan
Oki, pelaku UMKM dari RW 10, mengaku tidak menyangka antusiasme pengunjung terhadap dagangannya begitu tinggi. Ia mengapresiasi kreativitas panitia yang menyediakan kupon undian berhadiah bagi pengunjung yang berbelanja di stan UMKM.
“Alhamdulillah, panitia juga kreatif sekali. Kami dititipi kupon. Setiap transaksi minimal Rp10 ribu mendapat satu kupon yang bisa diundi untuk ditukarkan dengan doorprize,” ujar Oki.
Menurutnya, program tersebut turut mendorong pengunjung untuk berbelanja sekaligus mendukung usaha warga. Menariknya, setelah kupon untuk undian doorprize habis, antusiasme pengunjung untuk membeli dagangannya tetap tinggi.
“Saya sampai kewalahan, tidak menyangka. Tahu begitu, saya bawa es krim dan roti lebih banyak. Soalnya, saya jual es potong pakai roti,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Fitri, pelaku UMKM sekaligus warga RW 7 Kampung Sapen. Ia mengaku tidak menyangka dimsum yang dibawanya dapat terjual hingga 150 porsi.
Biasanya, Fitri mengambil persediaan sebanyak 200 porsi. Tingginya minat pembeli membuatnya menyesal tidak membawa lebih banyak dagangan.
“Tidak menyangka ternyata seramai ini. Tahu begitu, sayang juga, masih banyak yang mau beli. Namun, kalau harus kulakan lagi, saya mesti bolak-balik,” ujarnya.
Pengalaman kedua pedagang tersebut memperlihatkan bagaimana festival warga dapat membuka kesempatan bagi UMKM untuk menjangkau konsumen secara langsung. Selain menjadi tempat promosi, kegiatan ini memberi ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar dan mengenalkan produknya kepada masyarakat.
Senam Pagi, Sarapan Soto Gratis, dan Pemeriksaan Kesehatan
Kemeriahan Demangan Fest sudah terasa sejak pagi. Berdasarkan rundown panitia, kegiatan dimulai pukul 07.25 WIB dengan pembukaan dan pemeriksaan kesehatan yang melibatkan tim kesehatan Siloam.
Agenda dilanjutkan dengan senam pagi dan lomba mewarnai anak-anak. Setelah beraktivitas, warga menikmati sarapan soto gratis yang disediakan melalui kerja sama dengan Soto Pengok sebanyak 150 porsi.
Kegiatan sarapan bersama ini tidak hanya menjadi ruang kebersamaan, tetapi juga membawa pesan pengurangan sampah atau zero waste. Panitia menyajikan soto menggunakan mangkuk, bukan kemasan sekali pakai seperti styrofoam.
Pilihan tersebut menjadi langkah sederhana untuk mengurangi sampah kemasan selama kegiatan berlangsung.
Di sela festival, Fitri juga memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis dari Siloam. Pemeriksaan meliputi gula darah, kolesterol, dan asam urat.
“Alhamdulillah, tadi juga bisa ikut cek kesehatan gratis dari Siloam. Ada pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan asam urat. Saya jadi tahu kolesterol saya,” tuturnya.
Kehadiran layanan kesehatan membuat festival tidak hanya berfokus pada hiburan dan kegiatan ekonomi, tetapi juga menyediakan manfaat langsung bagi masyarakat.
Angklung Demangan hingga Beauty Class
Memasuki pukul 09.30 WIB, panggung Demangan Fest menghadirkan Angklung Demangan yang melibatkan 17 orang. Penampilan ini menjadi salah satu bentuk partisipasi warga dalam memperkenalkan potensi seni yang tumbuh di lingkungan kampung.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan talkshow beauty class pada pukul 10.00 WIB. Agenda tersebut memberikan variasi kegiatan bagi pengunjung di tengah aktivitas bazar UMKM.
Panitia juga membagikan doorprize pada pukul 11.00 WIB, sebelum memasuki jeda Dzuhur. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba mewarnai pada pukul 12.00 WIB.
Kegiatan anak-anak menjadi bagian penting dalam festival karena membuka ruang bagi kreativitas sekaligus memberikan kesempatan kepada keluarga untuk menikmati acara bersama.
Wayang Uwuh, Seni dari Barang Bekas
Selepas tengah hari, Demangan Fest menghadirkan talkshow Wayang Uwuh yang dijadwalkan berlangsung pukul 12.30 WIB. Talkshow ini dibawakan oleh Iskandar, sosok yang memperkenalkan karya seni berbahan sampah atau barang bekas menjadi media ekspresi budaya.
Wayang Uwuh memadukan kreativitas seni dengan kepedulian terhadap lingkungan. Barang yang dianggap tidak lagi berguna dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai artistik dan pesan edukatif.
Karya Iskandar telah diperkenalkan hingga ke luar negeri. Ia juga mendapat undangan dari berbagai stasiun televisi swasta maupun nasional untuk memperkenalkan Wayang Uwuh kepada masyarakat yang lebih luas.
Kehadiran talkshow ini memperkuat pesan lingkungan dalam Demangan Fest. Setelah sebelumnya menghadirkan praktik pengurangan kemasan sekali pakai saat sarapan bersama, festival juga mengajak masyarakat melihat peluang pemanfaatan barang bekas melalui pendekatan seni.
Tari Angguk dan Musik Mengawali Acara Sore
Setelah talkshow Wayang Uwuh, rangkaian acara berlanjut dengan penampilan RKB yang dalam rundown dijadwalkan pukul 13.30 WIB, dengan keterangan penampilan tari angguk oleh dua orang penari.
Pada pukul 14.00 WIB, panitia menjadwalkan pengecekan tata suara dan panggung untuk mempersiapkan penampilan musik sore hari. Setelah jeda Ashar, panggung kembali diisi dengan penampilan Shif4 pada pukul 15.10 WIB.
Grup tersebut dijadwalkan tampil selama 50 menit dengan membawakan lima lagu. Kehadiran musik menjadi penghubung antara kegiatan siang dan seremoni pembukaan acara inti pada sore hari.
Rogo Singo Barong Meriahkan Seremoni Pembukaan
Acara inti Demangan Fest dimulai pukul 16.00 WIB melalui seremoni pembukaan. Rangkaian tersebut dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan ketua panitia, dan sambutan Lurah Demangan.
Ketua Panitia Resya Duta menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan. Ia berharap Demangan Fest dapat kembali digelar pada tahun berikutnya dan semakin sukses.
Lurah Demangan, Suleman Pirson Joko Susilo, turut menyampaikan apresiasi kepada para sponsor yang memberikan dukungan terhadap acara. Ia berharap Demangan Fest terus berkembang dan mendapat dukungan lebih luas pada penyelenggaraan berikutnya.
Setelah seremoni pembukaan, panggung diisi dengan penampilan Rogo Singo Barong yang diasuh Bopo Fendri, warga Kampung Pengok, Kelurahan Demangan.
Kesenian tersebut terbuka bagi siapa saja, tidak terbatas bagi warga Kelurahan Demangan. Keterbukaan ini menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan seni budaya.
Dalam penampilannya, Rogo Singo Barong menggunakan gamelan yang dipinjam dari Kemantren Gondokusuman. Peralatan tersebut diambil menggunakan kendaraan Tosa Demangan untuk mendukung kelancaran pertunjukan.
Penampilan ini menjadi salah satu sajian seni budaya dalam rangkaian acara inti yang menghubungkan potensi komunitas dengan perayaan warga.
Singo Barong, Line Dance, hingga Kampung Menari
Rangkaian penampilan seni berlanjut setelah jeda Magrib. Berdasarkan rundown, panggung Demangan Fest kembali diisi dengan line dance PKK pada pukul 18.10 WIB.
Penampilan tersebut melibatkan tujuh orang peserta dan menambah keberagaman sajian hiburan dalam festival.
Setelah jeda Isya, acara dilanjutkan dengan penampilan Mikaila pada pukul 19.10 WIB. Dalam rundown, Mikaila dijadwalkan membawakan lagu “Cendol Dawet”.
Pada pukul 19.25 WIB, giliran Kampung Menari tampil dengan sajian tari Yapong dan Kridha Lelana yang melibatkan 20 orang. Pertunjukan ini menjadi salah satu penampilan kelompok yang mengangkat potensi seni tari dalam kehidupan masyarakat kampung.
Mikaila kembali dijadwalkan tampil pada pukul 19.50 WIB dengan lagu “Kicau Mania”.
Selanjutnya, panggung menampilkan Tari Puspo Retno pada pukul 20.00 WIB. Penampilan selama 30 menit tersebut dijadwalkan dibawakan oleh penari Sagitasya.
Ragam penampilan tersebut menunjukkan bahwa Demangan Fest memberikan ruang bagi berbagai bentuk ekspresi seni, mulai dari kesenian tradisional, tari kelompok, hingga hiburan musik.
Penampilan Jangan Asal Enak Tutup Rangkaian Hiburan
Menjelang akhir acara, panggung Demangan Fest dijadwalkan menghadirkan Jangan Asal Enak bersama Okky Kumala mulai pukul 20.30 WIB.
Penampilan selama 45 menit tersebut menjadi salah satu sajian hiburan terakhir sebelum acara memasuki penutupan.
Berdasarkan rundown, penutupan dijadwalkan berlangsung pukul 21.15–21.30 WIB. Panitia merencanakan lagu “Koyo Jogja Istimewa” dibawakan sebelum lagu terakhir, kemudian MC Duma menutup rangkaian kegiatan.
Dengan demikian, Demangan Fest #2 dirancang sebagai festival sehari penuh yang memadukan kegiatan ekonomi, kesehatan, edukasi, hiburan, dan seni budaya dari pagi hingga malam.
Menghidupkan Potensi Warga Lewat Festival
Demangan Fest #2 memperlihatkan bagaimana sebuah festival tingkat kelurahan dapat mempertemukan banyak potensi dalam satu ruang. Pelaku UMKM memperoleh kesempatan memasarkan produk, anak-anak mendapat ruang berkreasi, kelompok seni menampilkan kemampuan, sementara masyarakat dapat menikmati layanan kesehatan dan berbagai hiburan.
Keterlibatan pelaku UMKM dari 12 RW juga menjadi unsur penting dalam upaya memperkenalkan produk usaha warga kepada pengunjung. Pengalaman Oki dan Fitri menunjukkan bahwa tingginya minat pembeli dapat menjadi peluang ekonomi yang berarti bagi pedagang.
Di saat yang sama, penyajian sarapan dengan mangkuk dan pengenalan Wayang Uwuh menghadirkan pesan kepedulian terhadap lingkungan. Sementara itu, Angklung Demangan, tari angguk, Rogo Singo Barong, line dance PKK, Kampung Menari, dan Tari Puspo Retno memperlihatkan keberagaman potensi seni yang turut memeriahkan acara.
Melalui kolaborasi panitia, warga, pelaku usaha, komunitas seni, dan sponsor, Demangan Fest menjadi ruang bersama untuk merayakan potensi kampung sekaligus memperkuat interaksi sosial di Kelurahan Demangan, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Bagi pelaku UMKM, festival ini bukan sekadar tempat berjualan. Bagi komunitas seni, panggung ini menjadi kesempatan untuk tampil. Bagi masyarakat, Demangan Fest menjadi ruang untuk berkumpul, menikmati hiburan, dan mengenal potensi wilayahnya sendiri. (rel)






