JOGJAOKE.COM, Jogja – Kekecewaan suporter PSIM Yogyakarta memuncak setelah tim kebanggaan mereka kalah 1-2 dari PSM Makassar, Jumat (16/10/2026).
Antonius Fokki Ardiyanto, S.IP., pendukung PSIM, menyuarakan kegelisahan di Wisma PSIM, Baciro, saat ribuan suporter mendatangi markas kebanggaan warga Yogyakarta.
Slogan “Ojo Di Dol Yow Dab!” menggema sebagai peringatan agar PSIM menjaga identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat Yogyakarta.
Fokki menilai lima pertandingan tanpa kemenangan menjadi alarm serius yang menuntut evaluasi menyeluruh dan pertanggungjawaban manajemen.
“PSIM itu bukan sekadar barang dagangan. PSIM adalah kebanggaan warga Yogyakarta. Kami mencintai PSIM dengan hati, sejarah, dan pengorbanan,” tegasnya.
Menurutnya, keterpurukan tim tidak cukup dijelaskan dengan alasan teknis pertandingan, kualitas lawan, atau nasib buruk di lapangan.
“Kalau lima kali main hasilnya terus mengecewakan, jangan salahkan kalau suporter mulai curiga dan bertanya-tanya,” ujarnya.
Fokki mengingatkan, kecurigaan suporter harus dijawab melalui keterbukaan, bukan dianggap sebagai fakta tanpa bukti ataupun dibiarkan berkembang menjadi spekulasi.
“Jangan biarkan kecurigaan ini menjadi bola liar. Manajemen harus membuka penjelasan secara transparan agar publik tidak terus bertanya-tanya,” katanya.
Dalam pertemuan suporter dan manajemen di sekitar Wisma PSIM, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, turut hadir mendengarkan aspirasi.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah suporter secara tegas menuntut pelatih Van Gastel diberhentikan dan manajer Iksan mengundurkan diri. Kedua tuntutan itu merupakan aspirasi suporter, bukan keputusan resmi manajemen.
Desakan tersebut mencerminkan kekecewaan pendukung terhadap performa tim sekaligus tuntutan agar pihak yang bertanggung jawab segera mengambil langkah nyata.
Menanggapi situasi itu, Fokki menegaskan manajemen harus melakukan evaluasi secara serius dan menjelaskan langkah perbaikan kepada publik.
“Kalau evaluasi harus dilakukan, lakukan secara sungguh-sungguh. Kalau ada pihak yang harus bertanggung jawab, jangan menghindar,” tegasnya.
Ia mengingatkan suporter telah mengorbankan waktu, tenaga, dan uang untuk mendukung PSIM, sehingga layak mendapatkan penjelasan mengenai kondisi klub.
“Suporter tidak bisa terus-menerus diminta bersabar tanpa kepastian. Mereka berhak mendapatkan penjelasan yang layak,” tambahnya.
Fokki menegaskan PSIM bukan sekadar klub sepak bola, melainkan bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Yogyakarta yang harus dijaga bersama.
Karena itu, pengelolaan klub harus mengedepankan profesionalisme, transparansi, dan tanggung jawab demi menjaga prestasi serta kepercayaan publik.
Ia berharap kehadiran Wakil Wali Kota menjadi momentum memperkuat komunikasi antara suporter, manajemen, dan pihak terkait untuk mencari solusi.
“Kami tidak sedang meninggalkan PSIM. Justru karena mencintai PSIM, kami datang, bersuara, dan menuntut perubahan,” ungkapnya.
Menurut Fokki, kecintaan suporter tidak boleh hanya dimanfaatkan ketika stadion penuh, tetapi juga harus dihargai saat mereka meminta pertanggungjawaban.
Ia menyerukan evaluasi teknis objektif, keterbukaan manajemen, dan keputusan tegas agar PSIM segera keluar dari situasi sulit.
“Ojo Di Dol Yow Dab! Jangan biarkan PSIM kehilangan jati dirinya. Klub ini harus dijaga dan dikelola secara bertanggung jawab,” pungkasnya.(waw)






