JOGJAOKE.COM, Kulonprogo – Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kulonprogo menetapkan Wahyu Baskoro sebagai ketua baru melalui Konferensi Cabang (Konfercab) II di Dapur Semar, Wates, Sabtu (10/10/2026).
Penetapan tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat perjuangan pemuda Marhaenis dalam mengawal kepentingan rakyat kecil di tengah dinamika sosial dan politik.
Konfercab II dihadiri Sekretaris Jenderal DPP GPM Putra Naibaho, Pembina DPP Bambang Setyo Martono dan Sunartijono, serta sejumlah pengurus pusat organisasi.
Turut hadir Ketua DPP Bidang Hubungan Antar Lembaga Antonius Fokki Ardiyanto dan Wakil Ketua Bidang Hukum, HAM, dan Advokasi DPP GPM Edy Susanto.
Forum tersebut tidak sekadar menjadi agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga ruang mengevaluasi arah perjuangan organisasi dan memperkuat komitmen ideologi Marhaenisme.
Dalam sambutannya, Putra Naibaho memaparkan perjalanan sejarah GPM serta dinamika politik nasional yang memengaruhi perkembangan gerakan kepemudaan Marhaenis dari masa ke masa.
Dia menekankan pentingnya kader memahami akar sejarah organisasi agar tidak kehilangan pijakan ideologis ketika menghadapi perubahan situasi politik dan persoalan masyarakat.
Menurut materi yang disampaikan, GPM perlu berkembang menjadi organisasi yang tidak hanya menjalankan agenda struktural, tetapi juga bekerja nyata menjawab persoalan rakyat.
Kader didorong membaca dinamika politik secara kritis, menjaga kesinambungan ideologi, serta memastikan setiap gerakan organisasi tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat kecil.
Konfercab II juga menghadirkan anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta dari daerah pemilihan Kulonprogo, Fajar Gegana, untuk memberikan pendidikan politik kepada peserta.
Sekitar 50 kader mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan pembahasan mengenai sejarah Marhaenisme, posisi kaum Marhaen, serta relevansi perjuangan rakyat dalam kehidupan politik.
Pendidikan politik itu menyoroti pentingnya menjaga orientasi perjuangan di tengah dinamika politik yang sering kali lebih menonjolkan perebutan kekuasaan daripada penyelesaian persoalan masyarakat.
Marhaenisme dipahami bukan sekadar identitas historis atau slogan organisasi, melainkan landasan perjuangan untuk membela masyarakat kecil yang menghadapi ketimpangan dan ketidakadilan sosial.
Persoalan keterbatasan akses terhadap sumber daya, kesenjangan ekonomi, hingga lemahnya posisi tawar masyarakat menjadi tantangan yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Karena itu, kader GPM diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai Marhaenisme melalui pendampingan masyarakat, advokasi hukum, penguatan ekonomi rakyat, dan pendidikan politik yang berkelanjutan.
Terpilihnya Wahyu Baskoro membawa harapan baru bagi penguatan organisasi di Kulonprogo. Latar belakangnya sebagai aktivis hukum dan pengacara dinilai relevan untuk mendukung kerja advokasi masyarakat.
Kepengurusan baru diharapkan memperkuat pendampingan hukum, mengawal hak-hak warga, serta membangun gerakan kepemudaan yang berpihak kepada kepentingan kaum Marhaen.
Tantangan berikutnya adalah memperluas konsolidasi kader dan membangun struktur organisasi yang solid. Kepemimpinan baru dituntut menghadirkan program sesuai kebutuhan masyarakat Kulonprogo.
Selain kemampuan organisatoris, keberanian bersikap, kepekaan sosial, dan komitmen ideologis menjadi modal penting untuk memastikan organisasi tetap dekat dengan persoalan warga.
Konfercab II diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan yang lebih progresif, kritis, dan berintegritas. Namun, komitmen tersebut perlu dibuktikan melalui kerja nyata.
Keberhasilan organisasi tidak cukup diukur dari terbentuknya kepengurusan baru. Ukuran pentingnya adalah kemampuan kader hadir mendampingi masyarakat dan memperjuangkan kepentingan rakyat kecil.
Dengan kepemimpinan Wahyu Baskoro, GPM Kulonprogo diharapkan semakin konsisten memperjuangkan keadilan sosial serta menjaga semangat Marhaenisme dalam menghadapi berbagai tantangan.
Semangat perjuangan itu menjadi pesan utama Konfercab II: pemuda harus mengambil peran nyata, bukan sekadar menjadi penonton ketika masyarakat menghadapi persoalan sosial.(waw)
Pemuda Pejuang, Pejuang Pemuda. Salam Marhaenis!






