JOGJAOKE.COM, Bengkulu – BPDP bersama Kementerian Pertanian memperkuat kompetensi 111 pekebun sawit Bengkulu melalui pelatihan Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO untuk meningkatkan kapasitas pekebun secara berkelanjutan.
Pelatihan berlangsung di Hotel Mercure Bengkulu selama enam hari, mulai 22 hingga 27 September 2026, dengan peserta dari dua kabupaten asal Bengkulu dan sekitarnya.
Sebanyak 111 pekebun mengikuti kegiatan tersebut dan terbagi dalam tiga kelas, terdiri atas dua kelas Bengkulu Utara dan satu kelas Bengkulu Tengah secara bertahap.
Kegiatan ini menggandeng LPP Agro Nusantara sebagai lembaga yang dipercaya menangani pelatihan, sekaligus mendukung peningkatan kapasitas pekebun sawit swadaya secara berkelanjutan selama pelatihan berlangsung.
Pembukaan pelatihan diawali Tari Sorai Limo dari Sanggar STMBUDAYA, sebelum rangkaian sambutan dari sejumlah perwakilan pemerintah dan penyelenggara kegiatan secara resmi dimulai secara lancar.
Perwakilan Manajemen LPP Agro Nusantara Zukhruf Nur Wakhid menyampaikan sambutan pembukaan, mewakili lembaga yang mendukung pelaksanaan pelatihan ISPO tersebut pada kesempatan tersebut secara langsung.
Perwakilan Kabid Penyuluhan Dinas Perkebunan Bengkulu Utara Kusno turut memberikan sambutan, bersama PLH Kepala Dinas Pertanian Bengkulu Tengah Hendra Gusti pada pembukaan kegiatan resmi.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bengkulu Sri Herlin Despita juga hadir menyampaikan dukungan terhadap kegiatan pelatihan tersebut di lokasi kegiatan setempat.
Selama pelatihan, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjenbun Kementan Iim Mucharam hadir langsung menyapa dan memotivasi seluruh peserta selama kegiatan berlangsung langsung.
Iim Mucharam juga memantau proses pelatihan secara langsung, sekaligus memberikan perhatian terhadap peningkatan kemampuan para pekebun sawit swadaya Bengkulu selama kegiatan secara intensif berkelanjutan.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sumber daya manusia pekebun agar mampu menerapkan praktik budidaya yang baik dan berkelanjutan secara konsisten di lapangan.
Direktur LPP Agro Nusantara Pranoto Hadi menegaskan, “Produktivitas masih menjadi isu strategis” dalam memperkuat peran pekebun sawit swadaya pada peta kelapa sawit Indonesia secara.
Menurut Pranoto, peningkatan produktivitas berkaitan erat dengan penguatan keterampilan serta pemerataan pemahaman mengenai praktik budidaya yang baik bagi para pekebun sawit di seluruh daerah.
“Karena itu, peningkatan keterampilan dan pemerataan pemahaman” menjadi tanggung jawab bersama seluruh pelaku industri sawit Indonesia, ujar Pranoto dalam kegiatan tersebut bersama dan berkelanjutan.
Pranoto menilai pekebun swadaya memiliki peran penting dalam peta bisnis kelapa sawit nasional, sehingga kompetensi menjadi kebutuhan strategis yang harus terus diperkuat secara berkelanjutan.
Peserta kemudian mengikuti FieldTrip menuju PT Mutiara Sawit Seluma atau MSS, Desa Cugung Langu, Kecamatan Semidang Alas, Kabupaten Seluma, Bengkulu pada kegiatan tersebut langsung.
Kegiatan lapangan tersebut memberikan kesempatan peserta melihat langsung penerapan pengelolaan perkebunan sawit sekaligus memperluas pemahaman mengenai praktik budidaya berkelanjutan di lapangan bagi seluruh peserta.
Pelatihan ISPO tidak hanya berlangsung dalam ruang kelas, tetapi juga menghadirkan pengalaman lapangan untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap standar perkebunan sawit berkelanjutan yang diberikan.
Data kegiatan menyebut kepemilikan lahan pekebun swadaya mencapai sekitar 40 persen dari total, dengan sebaran berada di 26 provinsi di Indonesia yang menjadi perhatian.
Namun, kontribusi pekebun swadaya terhadap produksi CPO nasional masih sekitar 30 hingga 35 persen berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut secara nasional bersama.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya peningkatan produktivitas, keterampilan, dan pemahaman praktik budidaya untuk memperkuat kontribusi pekebun swadaya terhadap industri sawit nasional di Indonesia secara berkelanjutan.
Melalui pelatihan ISPO ini, BPDP dan Kementerian Pertanian mendorong kompetensi pekebun agar semakin siap menghadapi tuntutan industri sawit berkelanjutan di masa mendatang ke depan.(waw)






