Meneladan Pahlawan di Hari Kemerdekaan

Senin, 10 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si. (Foto Doc. Pribadi).

Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si. (Foto Doc. Pribadi).

Oleh: Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si

JOGJAOKE.COM, JAKARTA – Meneladan, glorifikasi keteladanan pahlawan dalam wacana dengan aktualisasi nilai kepahlawanan dalam perilaku sosial bukan sekedar hiasan lisan

Ungkapan “Meneladani Pahlawan di Hari Kemerdekaan”, merupakan frasa yang sangat lazim digunakan dalam berbagai kegiatan peringatan kemerdekaan. Namun, apabila ditinjau secara kebahasaan dan semantik, terdapat ruang untuk mempertanyakan ketepatan pilihan kata tersebut, khususnya jika maksud yang hendak disampaikan adalah mengikuti atau mengambil keteladanan dari para pahlawan.

Dalam bahasa Indonesia, akhiran “-i” memiliki berbagai fungsi dan makna, bergantung pada bentuk dasar serta konteks penggunaannya. Salah satu fungsi yang dapat muncul adalah memberikan atau melakukan suatu tindakan terhadap objek tertentu. Karena itu, secara intuitif, kata “meneladani” dapat dipahami sebagai melakukan tindakan memberi teladan atau menjadikan sesuatu sebagai objek tindakan. Maksud yang hendak dibangun dalam konteks peringatan Hari Kemerdekaan sesungguhnya bukanlah “memberi teladan kepada pahlawan”, melainkan menjadikan nilai, sikap, perjuangan dan pengorbanan para pahlawan sebagai teladan bagi kehidupan kita.

Atas dasar itu, ungkapan “Meneladan Pahlawan”, menjadi pilihan yang menarik dan secara maknawi lebih dekat dengan gagasan mengambil atau mengikuti keteladanan yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan.

Kata meneladan menempatkan subjek sebagai pihak yang belajar dari keteladanan, bukan sebagai pihak yang sekadar mengulang sebuah istilah yang telah lazim digunakan.

Persoalannya bukan semata-mata apakah kata meneladani dapat atau tidak dapat digunakan. Dalam perkembangan bahasa, suatu bentuk kata dapat menjadi lazim karena frekuensi penggunaannya dan kemudian memperoleh penerimaan dalam masyarakat. Namun, kelaziman penggunaan tidak selalu identik dengan ketepatan makna yang hendak dikonstruksikan dalam suatu konteks tertentu.

Dengan demikian, penggunaan ungkapan “Meneladan Pahlawan di Hari Kemerdekaan”, dapat dimaknai sebagai sebuah ajakan untuk kembali pada substansi keteladanan: belajar dari keberanian para pahlawan, menghayati nilai perjuangannya, meneruskan semangat pengabdiannya, serta mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata bagi bangsa dan negara.

Hari Kemerdekaan dengan demikian tidak semestinya berhenti pada kegiatan mengenang pahlawan, tetapi harus menjadi momentum untuk meneladan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan kekinian. Sebab, penghormatan yang paling bermakna kepada para pahlawan bukan hanya dengan menyebut nama mereka, melainkan dengan menghidupkan kembali nilai perjuangan mereka melalui perilaku, pengabdian, integritas, dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Setiap Hari Kemerdekaan, kita hampir selalu mendengar ungkapan “meneladani para pahlawan.” Kalimat tersebut hadir dalam pidato, spanduk, sambutan, tulisan, bahkan menjadi bagian dari berbagai kegiatan seremonial. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sejauh mana keteladanan para pahlawan benar-benar hadir dalam perilaku kita?

Jangan sampai keteladanan para pahlawan hanya menjadi bahasa lisan yang indah, tetapi kehilangan daya transformasinya dalam kehidupan nyata.

Para pahlawan tidak hanya meninggalkan nama dan sejarah. Mereka meninggalkan nilai: keberanian, pengorbanan, persatuan, kejujuran, kesederhanaan, keberpihakan kepada kepentingan bangsa, serta kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Nilai-nilai itulah yang semestinya diwarisi oleh generasi setelahnya.

Ironisnya, dalam kehidupan kekinian, kita masih menyaksikan berbagai perilaku yang justru bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Kepentingan pribadi dan kelompok terkadang lebih dominan daripada kepentingan publik; kejujuran berhadapan dengan pragmatisme; integritas berhadapan dengan kepentingan sesaat; sementara semangat persatuan sering kali dikalahkan oleh fanatisme, polarisasi dan kepentingan sektoral.

Di sinilah makna “meneladan”, menjadi penting. Meneladan bukan sekadar mengucapkan atau mengagungkan nama pahlawan. Meneladan berarti mengambil nilai perjuangan mereka untuk kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata.

Karena itu, peringatan Hari Kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “siapa pahlawan kita?”, tetapi bergerak lebih jauh menjadi pertanyaan reflektif: “Apakah perilaku kita hari ini masih mencerminkan nilai-nilai yang dahulu dilakukan oleh para pahlawan?”

Jika dahulu para pahlawan berjuang untuk kemerdekaan bangsa dengan pengorbanan jiwa dan raga, maka perjuangan generasi sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan integritas, kerja keras, keadilan, tanggung jawab, persatuan dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan demikian, keteladanan pahlawan tidak boleh menjadi sekadar retorika tahunan yang muncul setiap bulan Agustus, lalu menghilang ketika seremoni selesai. Keteladanan harus menjadi etika kehidupan sehari-hari.

Sebab, ukuran penghormatan kepada pahlawan bukan seberapa sering kita menyebut nama mereka, melainkan seberapa jauh nilai perjuangan mereka hidup dalam perilaku kita.

Kemerdekaan diwariskan oleh para pahlawan melalui perjuangan. Menjaga makna kemerdekaan adalah tanggung jawab kita melalui keteladanan.

Pada Hari Kemerdekaan ini, barangkali kita tidak cukup hanya berkata “Mari meneladan para pahlawan.” Lebih penting dari itu adalah memastikan bahwa dalam diri kita sendiri masih terdapat keberanian untuk jujur, kesediaan untuk berkorban, keteguhan memegang prinsip dan keberpihakan kepada kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan kamu, saya atau mereka.

Jangan biarkan keteladanan pahlawan hanya hidup saat pidato dalam peringatan kemerdekaan. Tetapi ia hidup dalam perilaku.

Dirgahayu RI ke-81.

***
– Kepala Satuan Tugas Pusat Studi Kepolisian,
– Dosen Kepolisian Utama Kepolisian di STIK-PTIK Lemdiklat Polri,
– Ketua Ikatan Alumni Sekolah Pascasarjana (SPs) UNNES
– Anggota Dewan Penasehat Masyarakat Sadar Seni, Budaya dan Pariwisata.

Berita Terkait

Indonesia Sabet 9 Penghargaan di WorldSkills Competition Shanghai 2026
Angkat Kriya Berkelanjutan, Dekranasda Kota Bekasi Tampil di Kriyanusa 2026
Dari Lampung ke Kriyanusa 2026, Batin Wulan Pacu Kriya Lokal Tembus Pasar Global
Hadapi Perkembangan Teknologi, Teknisi Ponsel Perlu Tingkatkan Kompetensi
MagangHub Batch 3 Angkatan II Dibuka, Kemnaker Ajak Perusahaan Jadi Mitra Penyelenggara
Teknologi Makin Berkembang, Wamenaker Afriansyah Noor Tekankan Kompetensi Teknisi Ponsel
Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Putra Bungsu Soekarno Tutup Usia 73 Tahun.
Herman Deru dan Febrita Lustia Hadiri Pembukaan Kriyanusa 2026 di JICC

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:51 WIB

Angkat Kriya Berkelanjutan, Dekranasda Kota Bekasi Tampil di Kriyanusa 2026

Senin, 28 September 2026 - 10:54 WIB

Dari Lampung ke Kriyanusa 2026, Batin Wulan Pacu Kriya Lokal Tembus Pasar Global

Minggu, 27 September 2026 - 15:03 WIB

Hadapi Perkembangan Teknologi, Teknisi Ponsel Perlu Tingkatkan Kompetensi

Minggu, 27 September 2026 - 14:45 WIB

MagangHub Batch 3 Angkatan II Dibuka, Kemnaker Ajak Perusahaan Jadi Mitra Penyelenggara

Sabtu, 26 September 2026 - 14:28 WIB

Teknologi Makin Berkembang, Wamenaker Afriansyah Noor Tekankan Kompetensi Teknisi Ponsel

Berita Terbaru

Jajaran pemain dan tim produksi foto bersama saat konferensi pers peluncuran film layar lebar Cidro Asmoro di Raminten's Kitchen, Yogyakarta

Yogyakarta

Sukses di Serial, Cidro Asmoro Kini Diadaptasi ke Layar Lebar

Selasa, 29 Sep 2026 - 16:15 WIB

Yogyakarta

‎GKR Bendara Kembali Pimpin DPD PUTRI DIY Periode 2026–2030

Selasa, 29 Sep 2026 - 16:11 WIB