JOGJAOKE.COM, Bantul – Petugas Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Parangtritis mengaku masih mendapat sindiran hingga ejekan dari wisatawan, meski sejak awal April 2026 sudah tidak lagi melakukan penarikan retribusi.
“Kami tetap kena omongan tidak enak, bahkan ada yang menyebut kami ‘rakus’,” ujar salah satu petugas saat ditemui di lokasi.
Kebijakan penghapusan retribusi di TPR Parangtritis bagi wisatawan yang menuju Gunungkidul dinilai cukup efektif meredam potensi konflik.
“Dulu sering terjadi adu mulut, sekarang jauh berkurang,” kata petugas.
Wisatawan kini cukup membayar tiket di lokasi tujuan wisata di Gunungkidul tanpa harus berhenti di TPR tersebut.
Meski begitu, persoalan belum sepenuhnya selesai. Sejumlah petugas mengungkapkan masih ada wisatawan yang bersikap sinis.
“Padahal kami sudah tidak menarik retribusi, tapi tetap disindir seolah-olah kami mencari keuntungan,” ungkapnya.
Petugas juga menyebut memiliki cara tersendiri untuk menguji kejujuran wisatawan.
“Kami bisa melihat pola, ada yang bilang mau ke Gunungkidul, tapi ternyata belok ke Parangtritis,” jelasnya.
Hal ini dinilai menjadi salah satu celah yang membuat sistem retribusi belum sepenuhnya tertib.
Sementara itu, Dinas Pariwisata Bantul meminta petugas tetap bersabar menghadapi berbagai karakter wisatawan.
“Kami minta petugas tetap profesional dan tidak terpancing,” ujar perwakilan dinas.
Ke depan, pembukaan akses seperti Jalur Kelok 23 diharapkan menjadi solusi agar wisatawan ke Gunungkidul tidak lagi melewati TPR Parangtritis, sehingga polemik retribusi bisa dihindari.(waw)






