670 Orang Menari, Kudus Lawan Lupa Warisan Budaya Leluhur

Sabtu, 26 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Kudus — Sebanyak 670 orang menari Tari Lajur Caping Kalo di Pendapa Kabupaten Kudus, Sabtu (26/9/2026), memeriahkan Hari Jadi ke-477 Kudus bersama.
‎
Gerakan serempak itu sekaligus menjadi bagian pencatatan Rekor MURI, namun makna kegiatan tersebut melampaui sekadar angka, sertifikat, dan catatan sejarah daerah.
‎
Ratusan peserta mengenakan busana khas serta caping kalo, kemudian bergerak dalam satu irama, menghadirkan simbol budaya Kudus di tengah kehidupan masyarakat setempat.
‎
Caping kalo bukan sekadar pelengkap penampilan, melainkan bagian identitas budaya masyarakat Kudus yang kembali dihidupkan melalui pertunjukan massal pada momentum tersebut.
‎
Ketika 670 peserta mengenakannya, simbol tersebut menemukan ruang baru untuk dikenal generasi muda, sekaligus memperkuat ingatan terhadap warisan leluhur masyarakat Kudus.
‎
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha hadir bersama istrinya serta Yayasan Bakti Sosial Nojorono menyaksikan langsung pencatatan rekor tersebut di Kudus, Sabtu.
‎
Giring mengaku kagum melihat perhatian masyarakat Kudus terhadap pelestarian budaya yang diwujudkan melalui Tari Lajur Caping Kalo secara bersama-sama di pendapa.
‎
“Saya sangat kagum bahwa di Kudus masyarakatnya sangat peduli dengan pelestarian dan budaya,” ujar Giring dalam kesempatan tersebut kepada wartawan.
‎
Menurut Giring, antusiasme ratusan peserta menunjukkan kebudayaan masih mendapatkan tempat penting dalam kehidupan masyarakat, meski zaman terus mengalami perubahan dan
‎perkembangan.
‎
Di balik pencatatan rekor, kegiatan tersebut membawa pesan bahwa budaya perlu terus digunakan, dikenalkan, dan diwariskan agar tidak terlupakan oleh generasi berikutnya.
‎
Endhah Endayani, istri Bupati Kudus sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, turut menjadi bagian penting dalam gerakan pelestarian tari tersebut secara berkelanjutan.
‎
Endhah mendorong Tari Lajur Caping Kalo agar tidak berhenti sebagai pertunjukan seremonial, tetapi terus dikenal dan dipelajari generasi muda secara luas.
‎
Pelestarian budaya membutuhkan proses panjang karena tidak selesai ketika panggung dibongkar, musik berhenti, atau sertifikat rekor diserahkan kepada penyelenggara kegiatan.
‎
Budaya harus diteruskan kepada anak-anak, diajarkan kepada generasi muda, dipentaskan kembali, serta dibuat tetap relevan dengan kehidupan masyarakat Kudus sehari-hari.
‎
Kolaborasi pemerintah, masyarakat, komunitas, keluarga, dan dunia usaha menjadi penting karena pelestarian budaya tidak dapat dikerjakan oleh satu pihak saja.
‎
Dukungan Yayasan Bakti Sosial Nojorono turut memperlihatkan bahwa dunia usaha dapat mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal masyarakat Kudus secara nyata.
‎
Rekor MURI mungkin menjadi catatan sejarah, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan Tari Lajur Caping Kalo tetap hidup setelah kegiatan berakhir nanti.
‎
Pertanyaan penting kemudian muncul: apakah tari tersebut akan terus dimainkan ketika pencatatan rekor telah menjadi bagian masa lalu bagi masyarakat Kudus sendiri?
‎
Jawabannya berada di tangan generasi Kudus, yang menentukan apakah warisan tersebut tetap dikenal, dicintai, dan diteruskan kepada generasi berikutnya secara konsisten.
‎
Pada 26 September 2026, sebanyak 670 orang memilih mengingat budaya Kudus dengan cara sederhana sekaligus kuat: mereka menari bersama di pendapa tersebut.(waw)

Berita Terkait

Pasien Lansia yang Viral Terhalang BYD Meninggal di Moewardi
Makam Ki Ageng Wonosobo Ungkap Jejak Cikal Bakal Daerah ‎
Sambut HUT TNI, Kodim Wonosobo Gelar Bakti Sosial Sunatan Massal Bagi 14 Anak
‎WNA India Lapor Kapolres, Polisi Cek Perempuan Kudus hingga Kondusif
Slankers Purwokerto Bersiap Nostalgia, Slank Kembali Manggung Setelah 18 Tahun
Wakapolri Dorong Akselerasi Pendidikan dan Pelatihan Polri
Festival Literasi Pekalongan: Terjebak Algoritma dan Ilusi ‘Melek Digital’
Zia Almahyra Ervoni, Talenta Cilik Semarang yang Menjajal Dunia Musik Lewat Single “Aku Indonesia”

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 14:02 WIB

670 Orang Menari, Kudus Lawan Lupa Warisan Budaya Leluhur

Kamis, 24 September 2026 - 08:38 WIB

Pasien Lansia yang Viral Terhalang BYD Meninggal di Moewardi

Rabu, 23 September 2026 - 08:33 WIB

Makam Ki Ageng Wonosobo Ungkap Jejak Cikal Bakal Daerah ‎

Senin, 21 September 2026 - 09:22 WIB

Sambut HUT TNI, Kodim Wonosobo Gelar Bakti Sosial Sunatan Massal Bagi 14 Anak

Jumat, 18 September 2026 - 10:44 WIB

‎WNA India Lapor Kapolres, Polisi Cek Perempuan Kudus hingga Kondusif

Berita Terbaru

Yogyakarta

5.567 Siswa Jadi Korban, 48 Kasus Keracunan MBG Guncang DIY

Sabtu, 26 Sep 2026 - 14:15 WIB

Jawa Tengah

670 Orang Menari, Kudus Lawan Lupa Warisan Budaya Leluhur

Sabtu, 26 Sep 2026 - 14:02 WIB