JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Upaya Pemerintah Kota Yogyakarta menata estetika kota dan pengelolaan lingkungan memperoleh dukungan dari PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGN). Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bertajuk “Jejak Hijau Mas Jos”, PGN menyalurkan 50 unit gerobak yang diproyeksikan khusus untuk penanganan rumput liar di kawasan perkotaan.
Penyerahan bantuan secara simbolis difasilitasi oleh Tribun Jogja dan digelar di Plaza Balai Kota Yogyakarta, Selasa (3/3/2026) siang. Program ini menjadi bagian dari komitmen PGN dalam menerapkan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) guna mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan di Kota Pelajar.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang menerima langsung bantuan tersebut menegaskan, 50 gerobak itu memiliki spesifikasi tugas yang jelas. “Saya ingin menspesifikasikan, 50 gerobak ini khusus untuk rumput, bukan untuk sampah. Harapannya, Kota Yogyakarta ini bisa benar-benar bersih dari rumput liar,” ujarnya.
Menurut Hasto, distribusi gerobak akan diprioritaskan untuk menopang sektor pariwisata. Sebanyak 24 unit diarahkan ke Kemantren Kotagede, sejalan dengan program quick win Dinas Pariwisata yang menargetkan kawasan tersebut sebagai destinasi unggulan yang rapi dan asri.
“Dengan dukungan 24 gerobak dari PGN ini, kita berani mendeklarasikan bahwa Kotagede tanpa rumput, tanpa rumput liar,” katanya. Namun, ia menekankan, deklarasi tersebut baru dapat dilakukan setelah pembersihan dilakukan secara menyeluruh dan konsisten.
Adapun 26 unit gerobak lainnya akan didistribusikan merata ke 13 kemantren di Kota Yogyakarta, masing-masing dua unit. Dengan skema ini, seluruh wilayah administratif kota diharapkan memiliki dukungan sarana untuk pengendalian rumput liar secara rutin.
Lebih jauh, Hasto mewajibkan setiap Mantri Pamong Praja mengintegrasikan bantuan tersebut dengan program pengolahan kompos. Rumput liar yang dicabut dan diangkut menggunakan gerobak tidak sekadar dibuang, melainkan diolah menjadi kompos di wilayah masing-masing.
“Ini bukan hanya soal kebersihan visual, tetapi juga siklus pengelolaan lingkungan. Rumput yang dibersihkan harus memberi nilai tambah,” ujarnya.
Langkah ini menandai pendekatan yang lebih sistematis dalam penataan kota, tidak hanya mempercantik ruang publik, tetapi juga mendorong praktik pengelolaan limbah organik berbasis wilayah. (ihd)






